Monthly Archives May 2015

BERAS ADAN KRAYAN – Dari Dataran Tinggi Krayan di Jantung Borneo

beras2

PANGAN DAN WARISAN BUDAYA

Makanan sebagai nutrisi merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi manusia. Para antropolog dan sejarawan mengajarkan kita bahwa, apa yang kita golongkan sebagai makanan, bagaimana kita mempersiapkan dan memakan makanan tersebut, juga mewujudkan makna budaya yang mendalam.

Makanan mencerminkan sejarah, membawa tradisi dan mengungkapkan identitas suatu etnis. Makanan menandai setiap perayaan dalam siklus kehidupan kita dan tercipta secara sosial. Makanan juga merupakan bagian dari sistem produksi: diambil dari bumi atau laut dan – oleh petani maupun nelayan – dijual ke pasar, rumah makan, dan tempat tempat lain. Beras Adan bukan hanya hasil pertanian, namun juga merupakan produk budaya masyarakat Dataran Tinggi.

Saat ini, masyarakat semakin berkomitmen untuk memulai gerakan ramah lingkungan dan bergaya hidup sehat. Banyak aksi yang mencoba untuk mendidik konsumen, melindungi lingkungan, meningkatkan ekonomi lokal serta melindungi identitas budaya pangan. Itu merupakan cara untuk membangun transparansi tentang asal-usul makanan dan mengembangkan kepercayaan antara produsen dan konsumen. Makanan bukan lagi merupakan produk yang tidak dikenal. Ini adalah cerminan dari hubungan ekonomi, lingkungan dan sosial-budaya tertentu.

PANGAN DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI DATARAN TINGGI KRAYAN

garam4

Beragam sayur-sayuran dan buah-buahan yang dijual hari ini berasal dari hutan atau tempat lain. Hasil panen tersebut sudah sejak lama ditanam oleh nenek moyang para petani hingga hari ini. Seiring waktu, hasil sayur-sayuran dan buah-buahan tersebut telah tersebar ke seluruh benua untuk dijadikan ‘makanan pokok’. Ini merupakan praktek masyarakat lokal yang membentuk keragaman dalam pilihan makanan yang tersedia saat ini.

Pertanian merupakan cara di mana kita dapat memproduksi makanan, tetapi juga cara kita mengelola lahan dan sumber daya serta membentuk hubungan ekonomi, sosial dan budaya. Dataran Tinggi Jantung Borneo menawarkan beragam pemandangan mempesona. Terletak pada ketinggian antara 760 meter dan 1.200 meter, membuat suhu di sana menjadi cukup dingin pada malam hari. Hamparan sawah luas yang dikelilingi pohon bambu dan buah-buahan terletak di lereng gunung dan ditutupi dengan hutan yang lebat, serta sungai yang berliku dan berjeram menjadi salah satu pemandangan yang khas disana. Masyarakat dan alam sekitar nampaknya telah bekerja sama dengan baik untuk membuat sebuah pemandangan menakjubkan dengan cara yang indah dan berkelanjutan.

Selama berabad-abad, masyarakat lokal disana telah mengubah bagian bawah lembah di sawah dan menciptakan siklus pertanian berkelanjutan yang dekat dengan peternakan kerbau. Secara lokal, baik sawah basah maupun kering sama-sama digarap, dan kebun-kebun yang ada juga dibudidayakan serta ditanami dengan berbagai macam jenis sayur-sayuran dan buah-buahan.

Perjalanan ke Dataran Tinggi Krayan akan memukau para pengunjung yang datang kesana dikarenakan oleh tingginya keranekaragaman hayati yang dimiliki. Hasil survei menunjukkan bahwa, misalnya, terdapat lebih dari 40 varietas padi yang ditanam dan dibudidayakan di daerah ini. Keragaman tanaman pangan lokal dan sumber daya yang ada bukan hanya sebuah cara yang baik untuk melestarikan keanekaragaman hayati, namun juga dapat menjaga kualitas dan berbagai sumber nutrisi serta salah satu cara yang penting untuk membangun ketahanan dan kemampuan beradaptasi. Dengan menjaga pangan, masyarakat setempat akan lebih mampu mengatasi masalah-masalah seperti perubahan iklim ataupun tantangan lingkungan lainnya.

BERAS ADAN

beras1

Beras Adan merupakan beras terbaik di antara varietas padi lokal yang hingga saat ini masih dibudidayakan di Krayan dan daerah Dataran Tinggi lain. Terdapat tiga varietas yang berbeda: putih, merah dan hitam. Beras ini terkenal dengan biji-bijian kecil dan tekstur halus serta rasa yang enak. Tingginya karbohidrat (varietas putih) dan kandungan mineral (varietas hitam) membuat beras ini mampu memberikan kontribusi untuk nilai gizi yang sangat baik.

Beras Adan dibudidayakan sesuai dengan cara-cara tradisional dan organik oleh para petani Dataran Tinggi baik di Sarawak maupun di Krayan (Kalimantan). Setiap keluarga mengolah antara satu hingga lima hektar sawah dan proses penanamannya dikerjakan dengan usaha yang cukup keras. Air yang bersih dan segar dialirkan oleh pipa bambu atau parit alami ke sawah. Kerbau tidak digunakan untuk membajak namun setelah panen dilepaskan ke sawah untuk meratakan tanah, memakan hama serta menyuburkan tanah, sehingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya. Beras Adan ditanam setahun sekali. Pembibitan biasanya dimulai sekitar bulan Juli dan penanaman dilakukan setelahnya. Musim panen dimulai sejak akhir Desember hingga Februari.

Pada tahun 2012, Beras Adan dari Dataran Tinggi Krayan dianugerahi sertifikat Indikasi Geografis (GI) oleh pemerintah Indonesia sebagai pengakuan atas karakteristik yang unik atas padi lokal ini. Hanya beras dari Dataran Tinggi Krayan yang dapat dipromosikan dan dipasarkan dengan nama beras Adan Krayan. Dan baru-baru ini, Beras Adan dari Krayan juga terdaftar di Slow Food Ark of Taste. (http://www.slowfoodfoundation.com/ark/details/1982/black-adan-krayanrice#.U5av56WpM7E)

  admin   May 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

GARAM GUNUNG – Dari Dataran Tinggi Krayan di Jantung Borneo

 

garam3

LEGENDA GARAM GUNUNG

Menurut legenda setempat, garam gunung ditemukan oleh seorang pemburu. Sang pemburu menembak seekor burung dengan sebuah sumpit dan burung tersebut jatuh ke rawa-rawa di hutan. Pemburu tersebut lalu mengambil burung yang mati itu, kemudian mencabuti bulu-bulunya serta mencucinya di dalam air rawa dan kemudian pulang ke rumah. Saat di rumah, ia memanggang burung tersebut dan sangat terkejut dengan rasa dagingnya. Belum pernah ia merasakan daging seperti itu sebelumnya. Pemburu tersebut kembali ke tempat awal di mana ia mendapatkan burung itu serta melihat sekeliling untuk mencari tahu mengapa daging burung tangkapannya terasa begitu gurih. Ia mencicipi air yang berada di rawa-rawa dan akhirnya menyadari bahwa air disana berbeda dengan air biasa. Sejak peristiwa itu, masyarakat di sana mulai menggunakan air tersebut untuk memasak makanan hingga mereka menemukan cara untuk menguapkan air lalu mengubahnya menjadi kristal garam.

f o r m a d at

Pulau Borneo merupakan sebuah kekayaan berharga dinilai dari sudut pandang etnis dan budaya. Dataran tingginya merupakan tanah air bagi beberapa Masyarakat Suku Dayak: Lundayeh/Lun Bawang, Sa‘ban, Kelabit, dan Penan. Meskipun saat ini mereka dipisahkan oleh batas internasional antara Indonesia dan Malaysia, namun secara akar bahasa dan budaya mereka saling terkait erat, serta berbagi asal usul dan tanah air yang sama. Walaupun mereka hidup di daerah yang relatif terpencil, namun terdapat interaksi sosial dan ekonomi yang erat dan saling ketergantungan yang merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat ini. Belajar dari pengalaman pembangunan yang tidak berkelanjutan di sekitarnya, masyarakat setempat khawatir bahwa dengan meningkatkan pembangunan ekonomi daerah, akan semakin meningkat pula risiko degradasi kualitas lingkungan sosial dan alam.

Dan pada bulan Oktober 2004, masyarakat Lundayeh/Lun Bawang, Kelabit, serta Sa’ban yang tinggal di dataran tinggi Borneo mendirikan organisasi lintas batas masyarakat adat. Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo -FORMADAT bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang masyarakat dataran tinggi, menjaga tradisi budaya serta mendorong pembangunan berkelanjutan di kawasan Jantung Borneo. Acara tersebut didukung oleh WWF-Indonesia.

TRADISI DAN SUMBER DAYA ALAM DI DATARAN TINGGI KRAYAN

garam4

Dataran tinggi Jantung Borneo menghadirkan beragam pemandangan yang mempesona. Hamparan sawah luas yang dikelilingi pohon bambu dan buah-buahan terletak di lereng gunung dan ditutupi dengan hutan yang lebat, serta sungai yang berliku dan berjeram menjadi salah satu pemandangan yang khas disana. Pemandangan alam di dataran tinggi Jantung Borneo tersebut juga dikondisikan oleh penggarapan area serta sumber daya alamnya. Saat ini, masyarakat dan alam sekitar nampaknya telah bekerja sama dengan baik untuk membuat sebuah pemandangan menakjubkan dengan cara yang indah dan berkelanjutan.

Yang unik dari dataran tinggi disana adalah tingginya konsentrasi air garam yang tersebar di lembah-lembah aluvial yang relatif datar. Sebagian besar berada di daerah rawa yang rendah, dan yang lain mengalir dari kaki bukit di hutan serta bercampur dengan air sungai. Saat ini ada 33 mata air garam yang diketahui terdapat di dataran tinggi Krayan, namun tidak semuanya dapat digunakan untuk memproduksi garam gunung, atau dalam bahasa lokal disebut tucu’ (Jayl Langub, 2012).

 

PROSES PEMBUATAN GARAM GUNUNG (Tucu’)

garam2

Garam gunung berasal dari air yang memiliki salinitas tinggi yang mengalir dari dalam tanah. Air tersebut terdapat di dalam tanah selama jutaan tahun yang lalu ketika dataran tinggi di sana masih ditutupi oleh laut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat telah mampu mengidentifikasi mata air garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia (main) dan mata air garam yang dikonsumsi oleh satwa liar (rupan). Melalui kecerdikan dan keterampilan yang dimiliki, masyarakat di sana telah mengubah air yang memiliki salinitas tinggi menjadi garam dan dapat dijual ke daerah lain. Meskipun kita tidak mengetahui kapan persisnya masyarakat setempat mulai mengambil garam dari banyak mata air yang terdapat di berbagai daerah, dan melalui catatan etno-historis kita dapat mengetahui bahwa garam merupakan salah satu komoditas yang paling berharga serta mampu diperdagangkan dari dataran tinggi Krayan. Garam merupakan sebuah produk yang sangat murah di pedalaman, dan, pada zaman dahulu, satu balok garam dapat ditukarkan dengan pedang logam tradisional (parang) di Apo Kayan.

Proses produksi garam terjadi sepanjang tahun, namun menjadi lebih intensif seiring dengan satu periode siklus penanaman padi. Masyarakat disana secara bergiliran mengolah garam, menghabiskan dua hingga tiga minggu di lokasi produksi pada suatu waktu jika lokasinya cukup jauh dari desa tempat mereka tinggal. Perempuan memiliki peranan penting dalam proses produksi tersebut. Dan garam menjadi sebuah komoditas utama untuk dikonsumsi sehari-hari dan untuk dijual. Metode pengolahan sepenuhnya menggunakan metode tradisional dan dikembangkan secara lokal, dengan satu-satunya penggunaan barel logam sebagai teknologi baru untuk memasaknya dalam jumlah yang lebih besar dan dapat membuat garam dalam waktu yang lebih singkat.

 

Garam1

Garam dikemas secara tradisional yaitu dengan cara memanaskan garam yang sudah dimasukkan ke dalam bambu di atas tungku api dan kemudian membungkusnya menggunakan daun. Biasanya garam disimpan dalam tumpukan kayu bakar di atas perapian di dapur. Dengan cara ini balok-balok garam akan tetap keras dan kering, serta dapat digunakan selama bertahun-tahun.

Proses produksi garam gunung adalah bagian penting dari warisan sejarah dan budaya masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Borneo. Garam gunung sering diberikan kepada pengunjung sebagai cinderamata atau diberikan ketika berkunjung ke rumah keluarga yang tinggal di daerah dataran rendah.

Masyarakat dari etnis lain juga mencari garam gunung karena mereka percaya bahwa garam gunung dapat berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan. Hingga hari ini, garam tetap menjadi komoditas perdagangan dan merupakan sebuah simbol bagi identitas masyarakat disana. Baru-baru ini, garam gunung Krayan terdaftar di Food Ark of Slow Taste. Ini merupakan sebuah pengakuan produk yang tidak hanya memiliki karakteristik unik dan cita rasa lokal, namun juga sebuah produk yang termasuk langka dan istimewa. (http://www.slowfoodfoundation.com/)

 

  admin   May 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

EnviRUNment – Lari dan menangkan Tiket Bali Marathon 2015

IMG-20150504-WA0000
Panen Raya Nusantara menghadirkan EnviRUNment. Lomba lari menempuh jarak lima kilometer ini akan dilangsungkan pada 7 Juni 2015. Pendaftaran peserta gratis, dimulai dari sekarang sampai tanggal 27 Mei 2015 di sini. Untuk informasi terkini, sila intip terus linimasa @panen2015.
Festival Panen Raya Nusantara mendorong ekonomi lokal yang adil dan lestari. Festival ini akan digelar di Lapangan Banteng pada 6-7 Juni 2015, menghadirkan 108 komunitas lokal dengan ratusan produk mereka. Informasi lebih lengkap ada di situs panen raya nusantara.
peta-lari
  admin   May 04, 2015   Blog   16 Comments Read More