Monthly Archives June 2015

PARARA dalam Foto

Masih terngiang-ngiang soal Festival Panen Raya kemarin itu?

Mari intip dokumentasinya di sini. Foto-foto lari pagi PARARA ada di sini. Bila ingin lihat Peragaan Busana di malam penutupan, sila lihat ini.

  admin   Jun 19, 2015   Blog   0 Comment Read More

Perlindungan Terhadap Kekayaan Tradisi Indonesia

Kearifan tradisional Indonesia terancam jika tidak ada perlindungan dari pemerintah untuk mencatat dan melestarikannya. Perlu ada undang-undang untuk melindungi pengetahuan tradisional dan ekspresi budaya yang bertujuan untuk mengembangkan budaya, memanfaatkan pengetahuan tradisional, melestarikan budaya, mempromosikan dan melindungi budaya dan pengetahuan tradisionalnya seperti dengan penyebutkan asal usul dan menghargai aspek relijius yang berlaku di masyarakat adat.

Upaya melindungi masyarakat adat dengan Hak Kekayaan Intelektual menurut Agus Sardjono dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia adalah salah alamat.

“HaKI itu bersifat individual, komersial dan dibangun untuk memonopoli hak sedangkan kearifan lokal bersifat komunal, tidak komersil. Jadi kalau menerapkan HaKI untuk melindungi pengetahuan tradisional ya salah alamat. Kecuali untuk melindungi produk berbasis pengetahuan tradisional.”

Penerapan HaKI yang berlaku saat ini tidak menjangkau kearifan tradisional karena memiliki konsep property atau kepemilikan yang berbeda. Sifatnya yang turun temurun itulah yang membuatnya disebut memiliki sumber daya genetik. Sumber daya genetik dan kearifan lokal pada masyarakat adat adalah hal yang terpisahkan. Sumber daya genetik, menjadi salah satu komponen keanekaragaman hayati yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Dalam pemanfaatnya, masyarakat biasanya menggunakan kearifan lokal ini sebagai sebuah sistem tatan kehidupan sosial, politik, budaya, ekonomi dan ekologi yang hidup di tengah-tengah masyarakat lokal.

“Karena sifatnya yang berbeda itulah, HaKI yang berlaku saat ini tidak bisa untuk melindungi masyarakat adat Indonesia. Harus ada konsep baru dalam melindungi budaya Indonesia yang sifatnya untuk mencegah mereka yang tidak berhak mengakui kekayaan tradisi Indonesia dan menjadikannya komersil. Ini adalah masalah komersialisasi.” – Abdon Nababan dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN)

Beberapa produk dari masyarakat lokal sudah mendaftarkan diri mendapatkan HaKI seperti Madu Sumbawa dan Beras Adan Krayan-Kalimantan Timur. Ada sistem indikasi geografis, peta yang menggambarkan darimana sebuah produk berasal. Jika terjadi perselisihan mengenai pengakuan sebuah produk budaya maka dikembalikan pada indikasi geografisnya. Dalam sistem hukum internasional ada yang disebut sebagai Disclosure of Origin, bahwa budaya bebas diekspresikan di berbagai wilayah atau negara manapun tetapi harus dengan menyebutkan darimana budaya itu berasal.

Madu Sumbawa mendapatkan indikasi geografisnya pada tahun 2011 dan Beras Adan Krayan pada 2012. Perwakilan FORMADAT, Kepala Adat Krayan Barat, Leli Gala Paru berharap pengakuan produk dari Krayan bisa juga didapat oleh produk yang berasal pengetahuan lokal lainnya

“Di Krayan, kami hidup secara turun menurun. Pertanian kami di sana sudah ada sejak 600 tahun lalu dan bertahan secara turun menurun tapi kami berharap pengakuan tidak hanya untuk beras tapi yang lainnya juga.”

Tetapi pengakuan HaKI untuk produk lokal yang diusahakan oleh kelompok organisasi masyarakat sipil menurut Abdon Nababan tidak akan kuat tanpa adanya pengakuan secara administrasi yang mencatat dan mengakui secara hukum setiap karya intelektual komunitas lokal yang ada di Indonesia. Salah satu yang dikejar oleh organisasi masyarakat sipil adalah segera disahkannya Rancangan Undang-undang Masyarakat Adat untuk melindungi masyarakat adat secara hukum.

talkshow haki

  admin   Jun 07, 2015   Blog   0 Comment Read More

Kerajinan dan Penguatan Ekonomi Perempuan

Penguatan ekonomi perempuan di beberapa wilayah Indonesia, biasanya diindentikan dengan kerajinan tangan baik berupa produk hasil tenun, anyaman dan lain-lain. Sayangnya dalam penguatan ekonomi perempuan masih mengalami kendala dalam pemenuhan bahan baku produk. Hal ini berpengaruh langsung pada peran mereka sebagai tiang penyangga ekonomi keluarga.

“Perempuan dalam kehidupannya merupakan tiang dalam memenuhi hidup sehari-hari keluargnya, perempuan merupakan penompang yang paling tangguh, karena biasanya laki-laki perannya dalam rumah tangga sehari-hari bekerja sebagai petani yang penghasilannya berupa bulanan sehingga perempuan disini mengambil peran untuk menyelatkan konsumsi hidup keluarganya”

Hal ini juga disampaikan Titik Hartini dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK). Titik menceritakan bahwa dulunya kerajinan tangan perempuan khususnya tenun, tidak diperjual belikan. Namun kerajinan tenun semakin berkembang tatkala ketika mereka harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

ASSPUK merupakan lembaga nirlaba yang mendampingi ribuan perempuan usaha kecil dan kelompok perempuan usaha kecil-mikro yang tersebar di 22 provinsi diseluruh Indonesia. Saat ini produk tenun merupakan produk unggulan dari berbagai komunitas perempuan penenun. Setidaknya ada 1.530 perempuan penenun di seluruh Indonesia.

“Saat kita memasuki masyarakat ekonomi Asia (MEA) maka kita harus mampu bertahan. Ada beberapa contoh yang saat ini terjadi dimana masuknya batik dari Cina, membuat batik hasil dari kerajinan Solo menurun. Hal ini yang harus kita perhatikan,” ujar Titik

“Kita harus pertahankan produk tenun, agar menjadi ciri khas kita. Sehingga tidak terpengaruh dengan produk-produk yang masuk ke Indonesia. Hak intelektual masyarakat saat masuknya MEA harusnya telah menjadi hak paten dahulu agar tidak ditiru oleh Negara lain. “

Tantangan kedepan menurut Adinindyah dari Lawe – komunitas bisnis sosial adalah mengejar ketersediaan bahan baku tenun berkualitas.

“Saat ini kita memang terkendala dalam hal memenuhi bahan baku itu sendiri. Dan tandatangan kita adalah bagaimana membuat identitas kita dari hasil keranjinan yang kita buat dan tidak diproduksi secara massal. Jika sudah diproduksi secara masal tentu akan menghilangkan identitas dari tenun itu sendiri.”

Tenun dan Menikah

Masyarakat dari suku Boti Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini masih menjaga tradisi dengan mengajarkan anak perempuan mereka dari usia lima tahun harus sudah pandai belajar menenun. Jika belum pandai menenun tidak boleh menikah. Untuk anak laki-laki sudah harus pandai berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika laki-laki kurang dalam penghasilan perempuan dapat membantu suami dengan cara menenun.

Tradisi ini juga berlaku bagi perempuan suku Kajang di Bulukumba Sulawesi Selatan. Perempuan yang ingin menikah sudah harus bisa memiliki keterampilan menenun. Bedanya di Kajang mereka harus menenun sebanyak 50 lembar kain untuk diberikan kepada mertuanya. Jika tidak ada penenun di Kajang, menyebabkan kurangnya kebutuhan dalam rumah tangga. Di Kajang supaya hasi tenunnya mengkilap menggunakan caking keong dari laut dan digosokkan sehingga menghasikan warna cerah yang mengkilap. (Dona Rahayu)

  admin   Jun 07, 2015   Blog   0 Comment Read More

Hutan Bukannya Hanya Kayu

Talkshow hutan bukan hanya kayu merupakan diskusi yang memberikan pemahaman tentang peran hutan dan keragaman hayatinya, yang seharusnya tidak hanya dilihat dari kayu saja tetapi apa yang dihasilkan dari hutan tersebut.

Dalam talkshow ini mendatangkan pembicara dari Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta. Komunitas Rimba Lestari Nuri, Komunitas Sungai Tohor Kepulauan Riau Zamhur, serta Rudi Syaf dari Kampung Bontae Kalimantan timur.

Dalam talkshow tersebut Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang mengatakan bahwa “pola pikir pemerintahan yang terjadi saat ini, sudah banyak terjadinya perubahan yang pesat dimana dulu kita memiliki pola bis manajemen sekarang sudah mengacu kepada resource manajemen dimana ada perubahan dimana dulu kita hanya mengambil sekarang kita melakukan manajemen hutan dan bagaimana mengelolanya dengan baik,”

“ Dalam hal ini telah diatur dalam Permenhut kehutanan, dimana ada 559 jenis hasil olahan non kayu yang telah kita identifikasi berguna untuk menunjang kehidupan masyarakat disekitar kawasan hutan. Yang utama yang kita kelola dan promosikan adalah madu hutan, bamboo, benang sutra. Untuk tanaman hutan yang paling berpotensi untuk dijadikan energy adalah tanaman nyamrong,”

“Dari 559 jenis produk bukan kayu sudah dimanfaatkan keseluruhannya untuk masyarakat. Lima yang saya sebutkan tadi adalah sebagai produk unggulan dan pemanfaatannya bersama-sama. Saat ini kemenyan di Provinsi Papua sudah punah, dan saat ini kita sedang mengembangkan bibiti pohon kemenyan untuk dikembangkan oleh masyarakat,” ujar Bambang Kembali.

Sementara itu, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta juga mengomentari mengenai produk hutan bukan kayu yang telah dikembangkan oleh Kemetrian UKM. Dimana sejak tahun 2000 Kementrian UKM sudah memberdayaakn masyarakat disekitar hutan untuk mengelola dan menjadikannya sebagai produk yang harus mereka kelola sendiri.

“Salah satu produk dampingan dari UKM adalah Madu Gaharu yang telah kita bina. Kunyit jahe bahkan sudah kita eksport keluar negeri dan diminati oleh masyarakat disana. Kunyit merupakan produk perdana yang kita kirim ke Amerika, dimana kunyit yang kita ekspor merupakan produk sekitar kawasan hutan Garut,” Ujar Wayan

Masih dalam paparan Wayan, kami mendorong masyarakat disekitar kawasan hutan untuk berkoperasi agar nantinya mereka menjadi tangguh. Sebenarnya kendala dari masyarakat bukanlah kendala modal tetapi terkendala oleh bagaimana pemasarannya. Dan untuk mendorong agar permasalahan tersebut tidak berlanjut, kita memberikan hak cipta produk secara gratis

 

 

Produksi Terkendala Oleh Perubahan Fungsi Hutan

“Masyarakat petani yang memproduksi hasil hutan bukan kayu adalah produsen, sebagai produsen mereka membutuhkan keamanan untuk dia mengelola produksi nya. Tetapi saat ini banyaknya izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola hutan menjadi kawasan konsensi HTI, HPH membuat masyarakat disekitar hutan kurang berproduksi.,” ujar Ecosistim Alliance (EA) Rudi.

“Saat ini produk yang dihasilkan oleh masyarakat disekitar kawasan hutan menjadi tidak ekonomis, dimana saat ini masuknya ekspansi sawit telah mengubah pola konsumsi masyarakat serta pola pikir mereka. Dapat kita lihat dari permasalahan hilangnya Jernang, dimana kita ketahui bahwa jernang rotan hidupnya berada di bawah pohon. Berkurangnya hutan akibat alih funsi lahan mengakibatkan hilangnya bibit-bibit jernang. Hal ini yang sangat kita sayangkan sekali,” ujar Rudi.

Dari data yang dimiliki oleh EA dari tahun 1990 – 2000 kawasan hutan berkurang sebanyak 50 %. Dan pada tahun 2000 – hingga 2013 terjadi kekurangan kawasan hutan sebanyak 20 % dimana total dari keseluruhan berkurangnya kawasan hutan sebesar 70 % untuk hutan Sumatera.

Dan ini merupakan tantangan untuk teman-teman NGO agar terus menadmpingi masyarakat supaya masyarakat dapat mempertahankan kawasan hutannya agar tidak berkurang.

Sementara itu, Jamil Bantae warga desa lampao Sulawesi selatan mengeluhkan hal yang sama, dimana kawasan hutan di areal hutan desa mereka juga terjadi pengalihan fungsi kawasan. Namun saat ini masyarakat telah mendapatkan haknya dalam mengelola hutan Negara dalam bentuk hutan desa. Sebesar 420 Ha hutan desa yang dikelola telah menghasilkan produk-produk non kayu berupa Madu, Rotan, tikar pandan dll.

“Kami berharap adanya peningkatan mutu yang kami hasilkan, terkait kualitas dari kami memang masih sangat kurang. Permsalahan utama yang saat ini kami hadapi adalah para tengkulak yang mengambil hasil dari kami dengan harga yang sangat murah sekali.”

Di tempat yang sama, Zamhur masyarakat dari Tebing Tinggi Kepulauan Meranti menyatakan bahwa kami melestarikan hutan dengan menanam sagu. Kami memelihara hutan agar tetap terpelihara. Ada tanaman buah-buahan salah satunya buah asam yang kami olah menjadi manisan. Di Meranti kami tidak memerlukan alatalat dari pemerintah karena kami hanya perlu parang dan kapak, namun saat ini kami sangat kesulitan untuk menumbuhkan anak sagu karena tempat menaman sagu selalu mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan bahwa adanya kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan sehingga membuka kanal sehingga air berkurang di kawasan kami.

“Di Meranti kawasan kami tersebut tergolong unik, karena lahan kami berupa lahan gambut. Dimana gambut memerlukan air yang cukup banyak agar lahan gambut yang terbentuk dari serahan bahan organic seperti akar-akar dan daun daunan tersebut tidak menjadi kering dan terbakar.”

Rawa gambut sangat sensitive, dimana ketika membuka lahan secara kanalisasi sangat banyak sekali sehingga gambutnya menjadi rusak. Sagu sangat ramah lingkungan untuk menjaga ekosistim rawa gambut. (Dona)

talkshow 1

 

  admin   Jun 06, 2015   Blog   0 Comment Read More

Pembukaan Panen Raya Nusantara Disambut Meriah Oleh Pengunjung

Pembukaan panen raya nusantara diawali dengan pemotongan pita oleh Deputi II Bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta disambut meriah dengan tarian yang dibawakan oleh masyarakat adat suku Papua dengan kolaborasi music dari Kesepuhan Baduy.

Dalam sambutan pembukaannya Wayan menyatakan bahwa ia sangat senang sekali diundang dalam acara Panen Raya Nusantara (Parara). Sebab visi dan misi dari bidang Produksi Kementerian Koperasi Dan UKM dengan Parara sangat sejalan.

“Saat ini Kementerian Koperasi melalui UKM memiliki program memberdayakan produk-produk local dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri yang masuk ke dalam negeri. Dengan adanya panen raya nusantara ini dapat kita kembangkan dengan kuat produk-produk local yang berkualitas,” ujar Wayan

“Presiden yang terpilih saat ini mengedepankan kepentingan rakyat, maka dengan moment ini kita dapat menuntut hak-hak masyarakat adat untuk mengelola ruang produksinya sendiri dengan memanfaatkan produk non kayu yang dihasilkan holeh hutan. Dan natinya kami yang akan mengembalikannya,” ujar Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang ingin mendengar suara-suara dari komunitas adat.

“Saya ingin sekali mendengarkan suara dari masyarakat adat yang telah datang jauh-jauh dari wilayahnya untuk daatang meramaikan acara Parara ini. Saya ingin sekali mendengarkan suara dari perwakilan teman-teman dari Kesepuhan Baduy” ujar Bambang kembali.

Mendapatkan ksempatan tersebut Jatim dari perwakilan kesepuhan Baduy mengungkapkan harapan Kesepuhan Baduy untuk tetap dapat melastarikan adat dan lingkungannya.

“Bagi kami lingkungan tersebut akan menjadi anurgah bila kita berbaik hati dengan bumi. Saat ini kami sedang menjaga hutan adat kami, dimana statusnya saat ini adalah kawasan lindung. Di kawasan tersebut terdapat 450 mata air tersebar merata dan alirannya menghidupi masyarakat yang ada disekitar Banten. Dan untuk itu kija jaga bersama-sama keamanannya dari hutan adat yang ada disekitar wilayah Badui.

Kepala Adat Besar Dayak Liwi Ghia Paro juga mendapatkan kesempatan yang sama, mengungkapkan ada sekitar 1.000.350 ha hutan adat yang saat ini dijaga, dan ditanami padi organic kami menamakannya dengan padi gunung. Dulu beras yang dihasilkan yaitu beras putih dan beras merah digunakan untuk konsumsi sendiri. Namun sejak dibuka akses infrastruktur jalan, beras merah yang dihasilkan sudah bisa dipasarkan keluar wilayah bahkan sampai ke Brunei Darussalam. (Dona )

pembukaan

 

 

 

  admin   Jun 06, 2015   Blog   0 Comment Read More