Blog

Kerajinan dan Penguatan Ekonomi Perempuan

Penguatan ekonomi perempuan di beberapa wilayah Indonesia, biasanya diindentikan dengan kerajinan tangan baik berupa produk hasil tenun, anyaman dan lain-lain. Sayangnya dalam penguatan ekonomi perempuan masih mengalami kendala dalam pemenuhan bahan baku produk. Hal ini berpengaruh langsung pada peran mereka sebagai tiang penyangga ekonomi keluarga.

“Perempuan dalam kehidupannya merupakan tiang dalam memenuhi hidup sehari-hari keluargnya, perempuan merupakan penompang yang paling tangguh, karena biasanya laki-laki perannya dalam rumah tangga sehari-hari bekerja sebagai petani yang penghasilannya berupa bulanan sehingga perempuan disini mengambil peran untuk menyelatkan konsumsi hidup keluarganya”

Hal ini juga disampaikan Titik Hartini dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK). Titik menceritakan bahwa dulunya kerajinan tangan perempuan khususnya tenun, tidak diperjual belikan. Namun kerajinan tenun semakin berkembang tatkala ketika mereka harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

ASSPUK merupakan lembaga nirlaba yang mendampingi ribuan perempuan usaha kecil dan kelompok perempuan usaha kecil-mikro yang tersebar di 22 provinsi diseluruh Indonesia. Saat ini produk tenun merupakan produk unggulan dari berbagai komunitas perempuan penenun. Setidaknya ada 1.530 perempuan penenun di seluruh Indonesia.

“Saat kita memasuki masyarakat ekonomi Asia (MEA) maka kita harus mampu bertahan. Ada beberapa contoh yang saat ini terjadi dimana masuknya batik dari Cina, membuat batik hasil dari kerajinan Solo menurun. Hal ini yang harus kita perhatikan,” ujar Titik

“Kita harus pertahankan produk tenun, agar menjadi ciri khas kita. Sehingga tidak terpengaruh dengan produk-produk yang masuk ke Indonesia. Hak intelektual masyarakat saat masuknya MEA harusnya telah menjadi hak paten dahulu agar tidak ditiru oleh Negara lain. “

Tantangan kedepan menurut Adinindyah dari Lawe – komunitas bisnis sosial adalah mengejar ketersediaan bahan baku tenun berkualitas.

“Saat ini kita memang terkendala dalam hal memenuhi bahan baku itu sendiri. Dan tandatangan kita adalah bagaimana membuat identitas kita dari hasil keranjinan yang kita buat dan tidak diproduksi secara massal. Jika sudah diproduksi secara masal tentu akan menghilangkan identitas dari tenun itu sendiri.”

Tenun dan Menikah

Masyarakat dari suku Boti Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini masih menjaga tradisi dengan mengajarkan anak perempuan mereka dari usia lima tahun harus sudah pandai belajar menenun. Jika belum pandai menenun tidak boleh menikah. Untuk anak laki-laki sudah harus pandai berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika laki-laki kurang dalam penghasilan perempuan dapat membantu suami dengan cara menenun.

Tradisi ini juga berlaku bagi perempuan suku Kajang di Bulukumba Sulawesi Selatan. Perempuan yang ingin menikah sudah harus bisa memiliki keterampilan menenun. Bedanya di Kajang mereka harus menenun sebanyak 50 lembar kain untuk diberikan kepada mertuanya. Jika tidak ada penenun di Kajang, menyebabkan kurangnya kebutuhan dalam rumah tangga. Di Kajang supaya hasi tenunnya mengkilap menggunakan caking keong dari laut dan digosokkan sehingga menghasikan warna cerah yang mengkilap. (Dona Rahayu)

  admin   Jun 07, 2015   Blog   0 Comment Read More

Hutan Bukannya Hanya Kayu

Talkshow hutan bukan hanya kayu merupakan diskusi yang memberikan pemahaman tentang peran hutan dan keragaman hayatinya, yang seharusnya tidak hanya dilihat dari kayu saja tetapi apa yang dihasilkan dari hutan tersebut.

Dalam talkshow ini mendatangkan pembicara dari Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta. Komunitas Rimba Lestari Nuri, Komunitas Sungai Tohor Kepulauan Riau Zamhur, serta Rudi Syaf dari Kampung Bontae Kalimantan timur.

Dalam talkshow tersebut Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang mengatakan bahwa “pola pikir pemerintahan yang terjadi saat ini, sudah banyak terjadinya perubahan yang pesat dimana dulu kita memiliki pola bis manajemen sekarang sudah mengacu kepada resource manajemen dimana ada perubahan dimana dulu kita hanya mengambil sekarang kita melakukan manajemen hutan dan bagaimana mengelolanya dengan baik,”

“ Dalam hal ini telah diatur dalam Permenhut kehutanan, dimana ada 559 jenis hasil olahan non kayu yang telah kita identifikasi berguna untuk menunjang kehidupan masyarakat disekitar kawasan hutan. Yang utama yang kita kelola dan promosikan adalah madu hutan, bamboo, benang sutra. Untuk tanaman hutan yang paling berpotensi untuk dijadikan energy adalah tanaman nyamrong,”

“Dari 559 jenis produk bukan kayu sudah dimanfaatkan keseluruhannya untuk masyarakat. Lima yang saya sebutkan tadi adalah sebagai produk unggulan dan pemanfaatannya bersama-sama. Saat ini kemenyan di Provinsi Papua sudah punah, dan saat ini kita sedang mengembangkan bibiti pohon kemenyan untuk dikembangkan oleh masyarakat,” ujar Bambang Kembali.

Sementara itu, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta juga mengomentari mengenai produk hutan bukan kayu yang telah dikembangkan oleh Kemetrian UKM. Dimana sejak tahun 2000 Kementrian UKM sudah memberdayaakn masyarakat disekitar hutan untuk mengelola dan menjadikannya sebagai produk yang harus mereka kelola sendiri.

“Salah satu produk dampingan dari UKM adalah Madu Gaharu yang telah kita bina. Kunyit jahe bahkan sudah kita eksport keluar negeri dan diminati oleh masyarakat disana. Kunyit merupakan produk perdana yang kita kirim ke Amerika, dimana kunyit yang kita ekspor merupakan produk sekitar kawasan hutan Garut,” Ujar Wayan

Masih dalam paparan Wayan, kami mendorong masyarakat disekitar kawasan hutan untuk berkoperasi agar nantinya mereka menjadi tangguh. Sebenarnya kendala dari masyarakat bukanlah kendala modal tetapi terkendala oleh bagaimana pemasarannya. Dan untuk mendorong agar permasalahan tersebut tidak berlanjut, kita memberikan hak cipta produk secara gratis

 

 

Produksi Terkendala Oleh Perubahan Fungsi Hutan

“Masyarakat petani yang memproduksi hasil hutan bukan kayu adalah produsen, sebagai produsen mereka membutuhkan keamanan untuk dia mengelola produksi nya. Tetapi saat ini banyaknya izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola hutan menjadi kawasan konsensi HTI, HPH membuat masyarakat disekitar hutan kurang berproduksi.,” ujar Ecosistim Alliance (EA) Rudi.

“Saat ini produk yang dihasilkan oleh masyarakat disekitar kawasan hutan menjadi tidak ekonomis, dimana saat ini masuknya ekspansi sawit telah mengubah pola konsumsi masyarakat serta pola pikir mereka. Dapat kita lihat dari permasalahan hilangnya Jernang, dimana kita ketahui bahwa jernang rotan hidupnya berada di bawah pohon. Berkurangnya hutan akibat alih funsi lahan mengakibatkan hilangnya bibit-bibit jernang. Hal ini yang sangat kita sayangkan sekali,” ujar Rudi.

Dari data yang dimiliki oleh EA dari tahun 1990 – 2000 kawasan hutan berkurang sebanyak 50 %. Dan pada tahun 2000 – hingga 2013 terjadi kekurangan kawasan hutan sebanyak 20 % dimana total dari keseluruhan berkurangnya kawasan hutan sebesar 70 % untuk hutan Sumatera.

Dan ini merupakan tantangan untuk teman-teman NGO agar terus menadmpingi masyarakat supaya masyarakat dapat mempertahankan kawasan hutannya agar tidak berkurang.

Sementara itu, Jamil Bantae warga desa lampao Sulawesi selatan mengeluhkan hal yang sama, dimana kawasan hutan di areal hutan desa mereka juga terjadi pengalihan fungsi kawasan. Namun saat ini masyarakat telah mendapatkan haknya dalam mengelola hutan Negara dalam bentuk hutan desa. Sebesar 420 Ha hutan desa yang dikelola telah menghasilkan produk-produk non kayu berupa Madu, Rotan, tikar pandan dll.

“Kami berharap adanya peningkatan mutu yang kami hasilkan, terkait kualitas dari kami memang masih sangat kurang. Permsalahan utama yang saat ini kami hadapi adalah para tengkulak yang mengambil hasil dari kami dengan harga yang sangat murah sekali.”

Di tempat yang sama, Zamhur masyarakat dari Tebing Tinggi Kepulauan Meranti menyatakan bahwa kami melestarikan hutan dengan menanam sagu. Kami memelihara hutan agar tetap terpelihara. Ada tanaman buah-buahan salah satunya buah asam yang kami olah menjadi manisan. Di Meranti kami tidak memerlukan alatalat dari pemerintah karena kami hanya perlu parang dan kapak, namun saat ini kami sangat kesulitan untuk menumbuhkan anak sagu karena tempat menaman sagu selalu mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan bahwa adanya kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan sehingga membuka kanal sehingga air berkurang di kawasan kami.

“Di Meranti kawasan kami tersebut tergolong unik, karena lahan kami berupa lahan gambut. Dimana gambut memerlukan air yang cukup banyak agar lahan gambut yang terbentuk dari serahan bahan organic seperti akar-akar dan daun daunan tersebut tidak menjadi kering dan terbakar.”

Rawa gambut sangat sensitive, dimana ketika membuka lahan secara kanalisasi sangat banyak sekali sehingga gambutnya menjadi rusak. Sagu sangat ramah lingkungan untuk menjaga ekosistim rawa gambut. (Dona)

talkshow 1

 

  admin   Jun 06, 2015   Blog   0 Comment Read More

Pembukaan Panen Raya Nusantara Disambut Meriah Oleh Pengunjung

Pembukaan panen raya nusantara diawali dengan pemotongan pita oleh Deputi II Bidang Produksi Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta disambut meriah dengan tarian yang dibawakan oleh masyarakat adat suku Papua dengan kolaborasi music dari Kesepuhan Baduy.

Dalam sambutan pembukaannya Wayan menyatakan bahwa ia sangat senang sekali diundang dalam acara Panen Raya Nusantara (Parara). Sebab visi dan misi dari bidang Produksi Kementerian Koperasi Dan UKM dengan Parara sangat sejalan.

“Saat ini Kementerian Koperasi melalui UKM memiliki program memberdayakan produk-produk local dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri yang masuk ke dalam negeri. Dengan adanya panen raya nusantara ini dapat kita kembangkan dengan kuat produk-produk local yang berkualitas,” ujar Wayan

“Presiden yang terpilih saat ini mengedepankan kepentingan rakyat, maka dengan moment ini kita dapat menuntut hak-hak masyarakat adat untuk mengelola ruang produksinya sendiri dengan memanfaatkan produk non kayu yang dihasilkan holeh hutan. Dan natinya kami yang akan mengembalikannya,” ujar Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang ingin mendengar suara-suara dari komunitas adat.

“Saya ingin sekali mendengarkan suara dari masyarakat adat yang telah datang jauh-jauh dari wilayahnya untuk daatang meramaikan acara Parara ini. Saya ingin sekali mendengarkan suara dari perwakilan teman-teman dari Kesepuhan Baduy” ujar Bambang kembali.

Mendapatkan ksempatan tersebut Jatim dari perwakilan kesepuhan Baduy mengungkapkan harapan Kesepuhan Baduy untuk tetap dapat melastarikan adat dan lingkungannya.

“Bagi kami lingkungan tersebut akan menjadi anurgah bila kita berbaik hati dengan bumi. Saat ini kami sedang menjaga hutan adat kami, dimana statusnya saat ini adalah kawasan lindung. Di kawasan tersebut terdapat 450 mata air tersebar merata dan alirannya menghidupi masyarakat yang ada disekitar Banten. Dan untuk itu kija jaga bersama-sama keamanannya dari hutan adat yang ada disekitar wilayah Badui.

Kepala Adat Besar Dayak Liwi Ghia Paro juga mendapatkan kesempatan yang sama, mengungkapkan ada sekitar 1.000.350 ha hutan adat yang saat ini dijaga, dan ditanami padi organic kami menamakannya dengan padi gunung. Dulu beras yang dihasilkan yaitu beras putih dan beras merah digunakan untuk konsumsi sendiri. Namun sejak dibuka akses infrastruktur jalan, beras merah yang dihasilkan sudah bisa dipasarkan keluar wilayah bahkan sampai ke Brunei Darussalam. (Dona )

pembukaan

 

 

 

  admin   Jun 06, 2015   Blog   0 Comment Read More

BERAS ADAN KRAYAN – Dari Dataran Tinggi Krayan di Jantung Borneo

beras2

PANGAN DAN WARISAN BUDAYA

Makanan sebagai nutrisi merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi manusia. Para antropolog dan sejarawan mengajarkan kita bahwa, apa yang kita golongkan sebagai makanan, bagaimana kita mempersiapkan dan memakan makanan tersebut, juga mewujudkan makna budaya yang mendalam.

Makanan mencerminkan sejarah, membawa tradisi dan mengungkapkan identitas suatu etnis. Makanan menandai setiap perayaan dalam siklus kehidupan kita dan tercipta secara sosial. Makanan juga merupakan bagian dari sistem produksi: diambil dari bumi atau laut dan – oleh petani maupun nelayan – dijual ke pasar, rumah makan, dan tempat tempat lain. Beras Adan bukan hanya hasil pertanian, namun juga merupakan produk budaya masyarakat Dataran Tinggi.

Saat ini, masyarakat semakin berkomitmen untuk memulai gerakan ramah lingkungan dan bergaya hidup sehat. Banyak aksi yang mencoba untuk mendidik konsumen, melindungi lingkungan, meningkatkan ekonomi lokal serta melindungi identitas budaya pangan. Itu merupakan cara untuk membangun transparansi tentang asal-usul makanan dan mengembangkan kepercayaan antara produsen dan konsumen. Makanan bukan lagi merupakan produk yang tidak dikenal. Ini adalah cerminan dari hubungan ekonomi, lingkungan dan sosial-budaya tertentu.

PANGAN DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DI DATARAN TINGGI KRAYAN

garam4

Beragam sayur-sayuran dan buah-buahan yang dijual hari ini berasal dari hutan atau tempat lain. Hasil panen tersebut sudah sejak lama ditanam oleh nenek moyang para petani hingga hari ini. Seiring waktu, hasil sayur-sayuran dan buah-buahan tersebut telah tersebar ke seluruh benua untuk dijadikan ‘makanan pokok’. Ini merupakan praktek masyarakat lokal yang membentuk keragaman dalam pilihan makanan yang tersedia saat ini.

Pertanian merupakan cara di mana kita dapat memproduksi makanan, tetapi juga cara kita mengelola lahan dan sumber daya serta membentuk hubungan ekonomi, sosial dan budaya. Dataran Tinggi Jantung Borneo menawarkan beragam pemandangan mempesona. Terletak pada ketinggian antara 760 meter dan 1.200 meter, membuat suhu di sana menjadi cukup dingin pada malam hari. Hamparan sawah luas yang dikelilingi pohon bambu dan buah-buahan terletak di lereng gunung dan ditutupi dengan hutan yang lebat, serta sungai yang berliku dan berjeram menjadi salah satu pemandangan yang khas disana. Masyarakat dan alam sekitar nampaknya telah bekerja sama dengan baik untuk membuat sebuah pemandangan menakjubkan dengan cara yang indah dan berkelanjutan.

Selama berabad-abad, masyarakat lokal disana telah mengubah bagian bawah lembah di sawah dan menciptakan siklus pertanian berkelanjutan yang dekat dengan peternakan kerbau. Secara lokal, baik sawah basah maupun kering sama-sama digarap, dan kebun-kebun yang ada juga dibudidayakan serta ditanami dengan berbagai macam jenis sayur-sayuran dan buah-buahan.

Perjalanan ke Dataran Tinggi Krayan akan memukau para pengunjung yang datang kesana dikarenakan oleh tingginya keranekaragaman hayati yang dimiliki. Hasil survei menunjukkan bahwa, misalnya, terdapat lebih dari 40 varietas padi yang ditanam dan dibudidayakan di daerah ini. Keragaman tanaman pangan lokal dan sumber daya yang ada bukan hanya sebuah cara yang baik untuk melestarikan keanekaragaman hayati, namun juga dapat menjaga kualitas dan berbagai sumber nutrisi serta salah satu cara yang penting untuk membangun ketahanan dan kemampuan beradaptasi. Dengan menjaga pangan, masyarakat setempat akan lebih mampu mengatasi masalah-masalah seperti perubahan iklim ataupun tantangan lingkungan lainnya.

BERAS ADAN

beras1

Beras Adan merupakan beras terbaik di antara varietas padi lokal yang hingga saat ini masih dibudidayakan di Krayan dan daerah Dataran Tinggi lain. Terdapat tiga varietas yang berbeda: putih, merah dan hitam. Beras ini terkenal dengan biji-bijian kecil dan tekstur halus serta rasa yang enak. Tingginya karbohidrat (varietas putih) dan kandungan mineral (varietas hitam) membuat beras ini mampu memberikan kontribusi untuk nilai gizi yang sangat baik.

Beras Adan dibudidayakan sesuai dengan cara-cara tradisional dan organik oleh para petani Dataran Tinggi baik di Sarawak maupun di Krayan (Kalimantan). Setiap keluarga mengolah antara satu hingga lima hektar sawah dan proses penanamannya dikerjakan dengan usaha yang cukup keras. Air yang bersih dan segar dialirkan oleh pipa bambu atau parit alami ke sawah. Kerbau tidak digunakan untuk membajak namun setelah panen dilepaskan ke sawah untuk meratakan tanah, memakan hama serta menyuburkan tanah, sehingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya. Beras Adan ditanam setahun sekali. Pembibitan biasanya dimulai sekitar bulan Juli dan penanaman dilakukan setelahnya. Musim panen dimulai sejak akhir Desember hingga Februari.

Pada tahun 2012, Beras Adan dari Dataran Tinggi Krayan dianugerahi sertifikat Indikasi Geografis (GI) oleh pemerintah Indonesia sebagai pengakuan atas karakteristik yang unik atas padi lokal ini. Hanya beras dari Dataran Tinggi Krayan yang dapat dipromosikan dan dipasarkan dengan nama beras Adan Krayan. Dan baru-baru ini, Beras Adan dari Krayan juga terdaftar di Slow Food Ark of Taste. (http://www.slowfoodfoundation.com/ark/details/1982/black-adan-krayanrice#.U5av56WpM7E)

  admin   May 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

GARAM GUNUNG – Dari Dataran Tinggi Krayan di Jantung Borneo

 

garam3

LEGENDA GARAM GUNUNG

Menurut legenda setempat, garam gunung ditemukan oleh seorang pemburu. Sang pemburu menembak seekor burung dengan sebuah sumpit dan burung tersebut jatuh ke rawa-rawa di hutan. Pemburu tersebut lalu mengambil burung yang mati itu, kemudian mencabuti bulu-bulunya serta mencucinya di dalam air rawa dan kemudian pulang ke rumah. Saat di rumah, ia memanggang burung tersebut dan sangat terkejut dengan rasa dagingnya. Belum pernah ia merasakan daging seperti itu sebelumnya. Pemburu tersebut kembali ke tempat awal di mana ia mendapatkan burung itu serta melihat sekeliling untuk mencari tahu mengapa daging burung tangkapannya terasa begitu gurih. Ia mencicipi air yang berada di rawa-rawa dan akhirnya menyadari bahwa air disana berbeda dengan air biasa. Sejak peristiwa itu, masyarakat di sana mulai menggunakan air tersebut untuk memasak makanan hingga mereka menemukan cara untuk menguapkan air lalu mengubahnya menjadi kristal garam.

f o r m a d at

Pulau Borneo merupakan sebuah kekayaan berharga dinilai dari sudut pandang etnis dan budaya. Dataran tingginya merupakan tanah air bagi beberapa Masyarakat Suku Dayak: Lundayeh/Lun Bawang, Sa‘ban, Kelabit, dan Penan. Meskipun saat ini mereka dipisahkan oleh batas internasional antara Indonesia dan Malaysia, namun secara akar bahasa dan budaya mereka saling terkait erat, serta berbagi asal usul dan tanah air yang sama. Walaupun mereka hidup di daerah yang relatif terpencil, namun terdapat interaksi sosial dan ekonomi yang erat dan saling ketergantungan yang merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat ini. Belajar dari pengalaman pembangunan yang tidak berkelanjutan di sekitarnya, masyarakat setempat khawatir bahwa dengan meningkatkan pembangunan ekonomi daerah, akan semakin meningkat pula risiko degradasi kualitas lingkungan sosial dan alam.

Dan pada bulan Oktober 2004, masyarakat Lundayeh/Lun Bawang, Kelabit, serta Sa’ban yang tinggal di dataran tinggi Borneo mendirikan organisasi lintas batas masyarakat adat. Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo -FORMADAT bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang masyarakat dataran tinggi, menjaga tradisi budaya serta mendorong pembangunan berkelanjutan di kawasan Jantung Borneo. Acara tersebut didukung oleh WWF-Indonesia.

TRADISI DAN SUMBER DAYA ALAM DI DATARAN TINGGI KRAYAN

garam4

Dataran tinggi Jantung Borneo menghadirkan beragam pemandangan yang mempesona. Hamparan sawah luas yang dikelilingi pohon bambu dan buah-buahan terletak di lereng gunung dan ditutupi dengan hutan yang lebat, serta sungai yang berliku dan berjeram menjadi salah satu pemandangan yang khas disana. Pemandangan alam di dataran tinggi Jantung Borneo tersebut juga dikondisikan oleh penggarapan area serta sumber daya alamnya. Saat ini, masyarakat dan alam sekitar nampaknya telah bekerja sama dengan baik untuk membuat sebuah pemandangan menakjubkan dengan cara yang indah dan berkelanjutan.

Yang unik dari dataran tinggi disana adalah tingginya konsentrasi air garam yang tersebar di lembah-lembah aluvial yang relatif datar. Sebagian besar berada di daerah rawa yang rendah, dan yang lain mengalir dari kaki bukit di hutan serta bercampur dengan air sungai. Saat ini ada 33 mata air garam yang diketahui terdapat di dataran tinggi Krayan, namun tidak semuanya dapat digunakan untuk memproduksi garam gunung, atau dalam bahasa lokal disebut tucu’ (Jayl Langub, 2012).

 

PROSES PEMBUATAN GARAM GUNUNG (Tucu’)

garam2

Garam gunung berasal dari air yang memiliki salinitas tinggi yang mengalir dari dalam tanah. Air tersebut terdapat di dalam tanah selama jutaan tahun yang lalu ketika dataran tinggi di sana masih ditutupi oleh laut. Seiring berjalannya waktu, masyarakat setempat telah mampu mengidentifikasi mata air garam yang dapat dikonsumsi oleh manusia (main) dan mata air garam yang dikonsumsi oleh satwa liar (rupan). Melalui kecerdikan dan keterampilan yang dimiliki, masyarakat di sana telah mengubah air yang memiliki salinitas tinggi menjadi garam dan dapat dijual ke daerah lain. Meskipun kita tidak mengetahui kapan persisnya masyarakat setempat mulai mengambil garam dari banyak mata air yang terdapat di berbagai daerah, dan melalui catatan etno-historis kita dapat mengetahui bahwa garam merupakan salah satu komoditas yang paling berharga serta mampu diperdagangkan dari dataran tinggi Krayan. Garam merupakan sebuah produk yang sangat murah di pedalaman, dan, pada zaman dahulu, satu balok garam dapat ditukarkan dengan pedang logam tradisional (parang) di Apo Kayan.

Proses produksi garam terjadi sepanjang tahun, namun menjadi lebih intensif seiring dengan satu periode siklus penanaman padi. Masyarakat disana secara bergiliran mengolah garam, menghabiskan dua hingga tiga minggu di lokasi produksi pada suatu waktu jika lokasinya cukup jauh dari desa tempat mereka tinggal. Perempuan memiliki peranan penting dalam proses produksi tersebut. Dan garam menjadi sebuah komoditas utama untuk dikonsumsi sehari-hari dan untuk dijual. Metode pengolahan sepenuhnya menggunakan metode tradisional dan dikembangkan secara lokal, dengan satu-satunya penggunaan barel logam sebagai teknologi baru untuk memasaknya dalam jumlah yang lebih besar dan dapat membuat garam dalam waktu yang lebih singkat.

 

Garam1

Garam dikemas secara tradisional yaitu dengan cara memanaskan garam yang sudah dimasukkan ke dalam bambu di atas tungku api dan kemudian membungkusnya menggunakan daun. Biasanya garam disimpan dalam tumpukan kayu bakar di atas perapian di dapur. Dengan cara ini balok-balok garam akan tetap keras dan kering, serta dapat digunakan selama bertahun-tahun.

Proses produksi garam gunung adalah bagian penting dari warisan sejarah dan budaya masyarakat yang tinggal di dataran tinggi Borneo. Garam gunung sering diberikan kepada pengunjung sebagai cinderamata atau diberikan ketika berkunjung ke rumah keluarga yang tinggal di daerah dataran rendah.

Masyarakat dari etnis lain juga mencari garam gunung karena mereka percaya bahwa garam gunung dapat berfungsi sebagai obat yang menyembuhkan. Hingga hari ini, garam tetap menjadi komoditas perdagangan dan merupakan sebuah simbol bagi identitas masyarakat disana. Baru-baru ini, garam gunung Krayan terdaftar di Food Ark of Slow Taste. Ini merupakan sebuah pengakuan produk yang tidak hanya memiliki karakteristik unik dan cita rasa lokal, namun juga sebuah produk yang termasuk langka dan istimewa. (http://www.slowfoodfoundation.com/)

 

  admin   May 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

EnviRUNment – Lari dan menangkan Tiket Bali Marathon 2015

IMG-20150504-WA0000
Panen Raya Nusantara menghadirkan EnviRUNment. Lomba lari menempuh jarak lima kilometer ini akan dilangsungkan pada 7 Juni 2015. Pendaftaran peserta gratis, dimulai dari sekarang sampai tanggal 27 Mei 2015 di sini. Untuk informasi terkini, sila intip terus linimasa @panen2015.
Festival Panen Raya Nusantara mendorong ekonomi lokal yang adil dan lestari. Festival ini akan digelar di Lapangan Banteng pada 6-7 Juni 2015, menghadirkan 108 komunitas lokal dengan ratusan produk mereka. Informasi lebih lengkap ada di situs panen raya nusantara.
peta-lari
  admin   May 04, 2015   Blog   16 Comments Read More

Panen Raya Nusantara: Bersatu Menambah Mutu Demi Kesejahteraan Bangsa

Konf.-PersWritten by  ;
Apakah Anda tahu mengenai madu hutan yang menjadi salah satu dari sekian banyak produk unggulan nan khas dari rakyat Indonesia? Juga anyaman rotan, lalu beras unggul, bermacam rempah-rempah, kain tenun, dan kerupuk. Seberapa banyak dari Anda mengetahui bagaimana mendapatkan produk-produk tersebut? Mungkin tidak banyak, dan mungkin Anda berpikir mesti pergi ke daerah A untuk membeli produk kain tenun B. Ya, memang membingungkan bila ditanyakan hal tersebut, tambah bingung saat produk dari luar negeri deras membanjiri pasar domestik. Alhasil, banyak dari kita jarang mendapatkan atau bahkan mengetahui bahwa bangsa ini ternyata memiliki banyak produk-produk komunitas yang unggul dan tak kalah dari produk luar.

Nah, di tengah keprihatinan akan perhatian terhadap produk-produk komunitas yang masih terpinggirkan, 22 lembaga/institusi beserta 200an komunitas menggelar Festival Panen Raya Nusantara dengan tajuk “Menuju Ekonomi Komunitas Adil Lestari”. Festival tersebut, menurut Jusupta Tarigan, Kepala Sekretariat Panen Raya Nusantara, digelar demi memaksimalkan potensi dan ceruk pasar terhadap produk-produk komunitas yang sangat besar, baik di tingkat daerah, nasional maupun mancanegara. Festival ini tidak hanya bersifat perayaan semata, tetapi mencoba menghadirkan terobosan mekanisme injeksi bisnis dari produk-produk tersebut. Bagaimana ratusan komunitas penghasil produk unggulan tersebut dapat bertemu dengan penggiat industri kreatif untuk meningkatkan daya jual dan pemahaman produk yang lebih baik kepada publik. Ke depan, menurut pria yang biasa disapa JT itu, mereka bakal menghadirkan kanal penjualan bersama, baik secara fisik maupun online (semacam online shop). Baca selengkapnya;

  admin   Apr 21, 2015   Blog   0 Comment Read More
Page 2 of 612345...Last »