Blog

ANYAMAN DESA KELUMBI

11139423_496699480480738_4055451953471506758_n

ANYAMAN DESA KELUMBI hasil kerajinan masyarakat Suku Dayak Desa, Desa Kelumbi, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat merupakan kerajinan anyaman bambu yang dikombinasikan dengan tanaman lokal yang mempunyai fungsi seperti bambu namun dengan tampilan yang berbeda, seperti tanaman senggang, rotan dan juga resam.

Hutan merupakan tempat mewariskan ilmu pengetahuan tradisional. Hutan berfungsi sebagai objek dan tempat belajar untuk mewariskan ilmu-ilmu tradisional dari orang tua kepada anaknya. Di hutan orang tua mengajar anak-anaknya tentang tumbuh-tumbuhan yang boleh dimakan, ubat-ubatan, tumbuhan beracun, bagaimana mengenali ciri-ciri, mengenali nama dan bagaimana memanfaatkannya untuk mendapatkan nafkah sehari-hari.

Belajar di dalam hutan melalui kebiasaan yang bermula dengan ikut- ikutan masuk ke hutan dari sejak kecil, mereka secara tidak sengaja mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari orang tuanya untuk mengenal hutan, cara menyelamatkan diri, dan pelbagai cara hidup di dalam hutan. Pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun itu merupakan pendidikan informal yang sangat berharga bagi orang Dayak maupun masyarakat luas apabila dikaji dan dikembangkan lebih lanjut. Sebagai contoh dalam mengenal tanaman ubat dan racun, manfaatnya untuk jenis penyakit apa, bagaimana cara pengolahannya, dan sebagainya. pengetahuan ini juga penting bagi masyarakat luas .

Sayangnya, kurangnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap seni dan budayanya sendiri serta tingginya intensitas eksposur budaya luar negeri membuat budaya kita makin lama makin dianggap kuno dan semakin ditinggalkan. Adanya hiburan yang berbentuk digital, membuat anak dan ibu tidak mewariskan dongeng-dongeng lagi. Ketika mencabut rumput pun bahan cerita ibu-ibu pun cerita tentang kisah drama di televisi. Anak dari kecil umur 6 tahun sudah di sekolah, jika sampai kuliah, 22 tahun itu tidak dekat dgn lingkungannya. Ini jelas menghambat pewarisan pengetahuan. Ditambah lagi faktor lingkungan sebagai tempat penyokong banyak pengetahuan tradisional banyak yang sudah rusak.

Untuk itu perlu dilakukan upaya memasyarakatkan kembali nilai dan seni budaya yang terkandung di dalam produk-produk anyaman, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan apresisasi masyarakat terhadap seni Desa Kelumbi serta melestarikan budaya yang terkandung di dalamnya.

Di bawah ini adalah proses pembuatan materi komunikasi visual pendukungnya dalam beberapa alternatif desain untuk kebutuhan kampanye Desa Kelumbi, hasil eksplorasi Kurniawan dan rekan-rekan. Mereka adalah para mahasiswa DKV School of Design BINUS University, yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

18223_496699493814070_9149173129085536540_n

 

11162515_496699487147404_3453967881922234081_n

11156393_496699497147403_1810197975348681726_n 11051210_496699483814071_3370232019953428776_n

  admin   Apr 20, 2015   Blog   0 Comment Read More

Madu Dari Lebah Rinjani

11150614_496715210479165_6988106840354716696_n

KELOMPOK TANI SARI MADU, DESA MUMBUL SARI, Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dengan hasil panen berupa madu, terbentuk tanggal 10 Juli 2006 silam. Kelompok Tani Sari Madu ini telah mampu mengembangkan usahanya melalui 34 orang anggotanya dengan luas areal yang menjadi garapan anggota kelompoknya 26,15 Ha.

Latar belakang terbentuknya kelompok Tani Sari Madu didasarkan atas inisiatif dan kesadaran dari seluruh warga masyarakat desa atas pengalaman masyarakat betapa sulit dan tidak enak hidup dan bekerja sendiri-sendiri. Sehingga para tokoh agama, tokoh masyarakat bermusyawarah sepakat untuk membentuk sebuah kelompok yang kemudian dinamakan Kelompok Tani Sari Madu, Di awal terbentuknya, hal-hal yang dilakukan anggota kelompok Tani Sari Madu di wilayah ini adalah tanaman jagung dan jambu mente. Seiring dengan berjalannya waktu, kelompok ini juga telah mampu mengembangkan usaha lain yaitu Budidaya Lebah Madu yang ternyata saat ini menjadi produk unggulan dari Kelompok Tani Sari Madu.

Pengalaman membuktikan bahwa budidaya lebah madu yang dijalankan anggota kelompoknya, ternyata tidak membutuhkan lahan yang luas, namun hasilnya sungguh luar biasa. Hal inilah yang membuat anggota kelompok semakin berminat untuk mengembangkan usahanya. Dengan demikian, maka niat anggota kelompok dalam mengembangkan usahanya tersebut terus bermunculan untuk tetap berkeinginan untuk menanam pohon di lahan yang memang menjadi areal produksi madu miliknya.

Bersama Pemerintah Daerah Kab. Lombok Utara bekerja keras melakukan upaya-upaya rehabilitasi hutan dan lahan serta perbaikan lingkungan secara serius dan terus-menerus agar pengelolaan dan pemanfaatan potensi sumber daya hutan melalui pengembangan tanaman dan hasil hutan bukan kayu dilaksanakan secara optimal dan berkelanjutan. Dengan melakukan program tersebut, tentu bencana tanah longsor dapat dicegah, sehingga masyarakat dapat hidup dengan tenang, aman dan sejahtera. Nampak usaha nyata di mana terlihat kesadaran masyarakat untuk menanam pohon dan memperbaiki lahan kritis dan gersang menjadi hijau. Dari segi ekologi memang sudah nampak baik, namun masih belum menjamin perbaikan ekonomi masyarakat. Untuk itu Bupati minta untuk berkreasi dan mencari solusi agar dapat dikembangkan program yang dapat meningkatkan pendapatan petani, seperti yang nampak saat ini pengembangan budidaya lebah madu.

Saat ini peternak lebah madu di Desa Mumbul Sari, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, kewalahan memenuhi permintaan konsumen karena volume produksi masih terbatas. Menurut Syafruddin Ketua Kelompok Tani, pada musim kemarau seperti sekarang permintaan sedang ramai karena madu yang diproduksi lebih bagus kualitasnya dibandingkan saat musim hujan. Namun upaya menambah skala produksi masih dihadapkan pada kendala ketersediaan pakan berupa jenis bunga yang menjadi sumber makanan lebah. Sumber pakan yang tersedia saat ini masih sebatas pada jenis bunga pohon dadap dan pohon kapuk. Diharapkan adanya aneka jenis bunga yang bisa jadi sumber pakan, sehingga mempengaruhi kualitas rasa madu. Namun hal ini masih sulit diwujudkan, apalagi pada musim hujan, bunga agak jarang. Kendala lainnya adalah menekan kadar air yang terkandung dalam madu sebagai akibat musim hujan.

Untuk itu perlu dilakukan upaya mengkomunikasikan Madu Mumbulsari, yang diharapkan dapat membantu meningkatkan usaha tani yang lebih maju. Di bawah ini adalah proses pembuatan materi komunikasi visual dalam beberapa alternatif desain untuk kebutuhan promosi Madu Mumbulsari, hasil eksplorasi Yashinta dan rekan-rekan. Mereka adalah para mahasiswa DKV School of Design BINUS University, yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

10421230_496715193812500_2567028876186441276_n 10996626_496715207145832_2904524883346890253_n 11152353_496715197145833_2111500825093840180_n

 

  admin   Apr 20, 2015   Blog   0 Comment Read More

SUKU DAYAK BISOMU SANGGAU

11178379_496796150471071_6783472959591790857_n

MASYARAKAT SUKU DAYAK BISOMU SANGGAU, Kalimantan Barat merupakan satu dari beberapa pengrajin hasil hutan bukan-kayu seperti bambu dan rotan, yang mereka kelola sedemikian rupa hingga menjadi produk anyaman berupa tikar maupun tas untuk keperluan sehari-hari. Pulau Kalimantan dikenal memiliki Sumber Daya Alam yang sangat tinggi dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat sekitarnya. Melihat potensi yang dimiliki masyarakat Suku Dayak Bisomu Sanggau, Yayasan Dian Tama (YDT) hadir untuk membantu mereka mengembangkan potensi yang ada. YDT membantu masyarakat Suku Dayak Bisomu Sanggau untuk mengembangkan rantai produksi bambu dan rotan yang diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual yang tinggi. Produk ini dipasarkan di Jakarta dan juga dikembangkan menjadi tas fashion yang dijual di pusat perbelanjaan yang dijual baik di dalam maupun di luar Indonesia.

Dalam pemberdayaan masyarakat Dayak, YDT tidak hanya berupaya melestarikan kerajinan tradisional, namun juga mendukung masyarakat Dayak agar selalu melakukan inovasi dan perubahan untuk mengembangkan usaha produk anyaman ini sehingga produk yang ada menjadi lebih fashionable dan dapat diterima oleh masyarakat luas. Lewat kampanye sosial ini, kami ingin membantu meningkatkan kesadaran pada masyarakat mengenai betapa berharganya setiap produk yang dibuat dengan melihat dari segi nilai kemanusiaannya. Dengan demikian, akan terjadi sebuah perubahan citra terhadap produk-produk lokal yang dihasilkan komunitas-komunitas yang ada. Masyarakat memiliki kecintaan terhadap produk-produk lokal serta memiliki pandangan yang lebih positif terhadap produk-produk lokal.

Di bawah ini adalah satu alternatif desain dari proses pembuatan materi komunikasi visual pendukung kampanye sosial untuk produk anyaman Suku Dayak Bisomu Sanggau, hasil eksplorasi Silvi Andreani dan rekan-rekannya. Mereka adalah para mahasiswa DKV School of Design BINUS University, yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

11148724_496796110471075_254156796317345610_n

 

11070752_496796127137740_6763483599120982119_n

 

  admin   Apr 20, 2015   Blog   0 Comment Read More

Pesantren Ath Thaariq: Pesantren Ramah Lingkungan

11159468_496664360484250_2805714623091747188_n

PESANTREN ATH THAARIQ terletak di dekat area Perkantoran Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Garut. Berada di tengah persawahan yang tersisa dari kepungan proyek perumahan. Pesantren ini berlokasi di tengah perkampungan urban, dimana penduduknya sebagian berasal dari desa–desa sekitar Garut yang datang ke kota untuk mengadu nasib. Pesantren ini juga berada sangat dekat dengan sebuah Perguruan Tinggi, tepat di Kelurahan Sukagalih RT/RW 04/12, Kecamatan Tarogong Kidul.

Uniknya, Pesantren ini didirikan oleh beberapa aktivis yang concern terhadap masalah – masalah agraria, demokrasi dan kemanusiaan pada tahun 2009 yang lalu. Sehari-hari pesantren ini diasuh oleh Nissa Wargadipura bersama suaminya Ibang Lukmanurdin, serta rekan-rekan mereka yang juga bergiat dalam Serikat Petani Pasundan.

Pesantren ini dihuni oleh para santri dari mulai usia anak-anak, mahasiswa hingga orang tua. Saat ini ada sekitar 100 orang santri yang belajar di Pesantren Ath Thaariq, dengan menggunakan sistem pembelajaran diskusi, sorogan dan bandungan.

Setiap santri didorong untuk bekerja keras, kreatif, inovatif, dan berpikiran kritis terutama di bidang produksi pertanian dan peternakan “lokal”. Bagian ini adalah upaya-upaya untuk membiasakan diri agar lebih mandiri dan tidak tergantung pada produk luar yang belum tentu bermanfaat bagi kehidupan masa depan mereka. Pesantren Ath Thaariq mendidik santrinya yang tinggal di pondok untuk mengkonsumsi pangan (terutama karbohidrat) tidak saja beras, namun juga jagung, talas, gadung, singkong dan sukun. Indonesia sangat kaya, punya beragam jenis pangan lokal yang dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Sebenarnya, tercatat ada ada 77 jenis karbohidrat yang tersedia di sekitar kita. Namun, pemerintah mengandalkan beras dan terigu yang 100% diimpor. Begitupun asupan protein yang terdiri dari kacang – kacangan lokal, sayuran lokal serta buah-buahan lokal. Semua diproduksi sendiri. Yang lokal lebih tahan, ramah dan sehat.

Selain itu, kebiasaan – kebiasaan berperilaku ramah lingkungan pun dibentuk sejak dini dan dibiasakan terus menerus oleh para pelaku belajar di pesantren, terutama para santri. seperti menyemai pohon keras yang bersifat tanaman rakyat yang menghasilkan, pengelolaan sampah dapur dan plastik, membuat kompos dari lingkungan sendiri, bertanam sayuran organik, hingga tidak memakai “pembalut” pabrikan.

Sesungguhnya aktivitas paling sederhana yang dilakukan setiap hari, dapat membantu memulihkan planet kita yang kian rusak ini. Kita harus memulai dari apa yang kita bisa. (Disampaikan oleh Nissa Wargadipura, Pimpinan Pesantren Ath Thaariq, Garut dan Pendiri Serikat Petani Pasundan. Disadur dari http://www.rahima.or.id)

Di bawah ini adalah proses pembuatan materi komunikasi visual dalam beberapa alternatif desain untuk kebutuhan kampanye hasil panen Pesantren Ath Thaariq, hasil eksplorasi Rio Cahyadi, Erik Chandra, Aditya Rahadi, Leonardo Julio, Andi Fauzan, Adrian Nugroho. Mereka adalah para mahasiswa DKV School of Design BINUS University, yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

 

10925845_496664490484237_6162603315718738962_o

 

11019550_496664393817580_6279487698298969317_n

 

 

11143507_496664380484248_4193929116212284523_n

 

11167677_496664397150913_27622220396950825_n

 

11009174_496664407150912_3001322463948694769_n

  admin   Apr 20, 2015   Blog   0 Comment Read More

Kopi Luwak Malabar

KELOMPOK TANI RAHAYU Desa Margamulya, Pengalengan Bandung Selatan, bergerak di bidang budidaya hortikultura sejak tahun 1992. Mulai tahun 2001 fokus pada satu komoditas tanaman yaitu kopi dan mendapat Hak Kelola Hutan Pangkuan Desa dari Perhutani KPH Bandung Selatan seluas 60 hektar. Di tahun yang sama, daerah Pengalengan mengalami musibah bencana gempa bumi dan dibukalah dapur umum. Kegiatan dapur umum inilah yang menjadi titik awal usaha kopi yang dirintis oleh Kopi Malabar Indonesia.

Perjalanan Kopi Malabar

Perjalanan Kopi Malabar

Lewat merek Kopi Malabar yang sudah mendapatkan hak paten atas merek, Kelompok Tani Rahayu mengembangkan usaha kopinya dengan pengembangan lahan kebun kopi, seperti revitalisasi lahan garapan yang terlantar, penanaman kebun kopi baru dan pembangunan lahan pembibitan Kopi Malabar Indonesia. Selain itu dilakukan pengembangan Kopi Luwak Malabar dengan penangkaran luwak, pengembangan budidaya luwak, hingga pembangunan sarana kandang luwak yang representatif. Tidak lupa program kemitraan dengan Perhutani terus dijalankan. Tahun 2011 perhatian terhadap kualitas kopi terus ditingkatkan dengan dilakukan pendampingan oleh tenaga ahli dari Belanda serta fasilitas produksi berupa pabrik, gudang dan mesin roasting.

Sedikit cerita mengenai Kopi Luwak di mana Indonesia dikenal sebagai negara penghasil kopi luwak terbaik di dunia. Kopi luwak berasal dari biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak. Kopi Luwak Malabar memiliki cita rasa dan aroma kopi yang unik karena luwak Malabar hanya menelan buah kopi yang benar-benar matang.

Kopi Luwak berbeda dengan pengolahan kopi secara biasa karena adanya proses fermentasi dan pengeraman di dalam perut hewan luwak selama beberapa jam serta hewan luwak mampu menyeleksi biji kopi segar yang benar-benar matang dan berkualitas. Selama proses pencernaan di dalam perut, luwak mengeluarkan enzim-enzim yang berguna selama proses pencernaan serta berlangsung pula proses fermentasi terhadap biji kopi tersebut. Itu sebabnya biji Kopi Luwak hasil fermentasi hewan luwak memilik aroma harum khas yang tidak bisa tergantikan oleh proses pembuatan kopi biasa. Meskipun biji kopi kemudian dikeluarkan dalam bentuk kotoran oleh luwak berupa gumpalan biji kopi utuh bercampur lendir, biji Kopi Luwak tersebut dibersihkan dengan metode double washer sehingga bebas najis, dan memiliki aroma khas berbeda dengan kopi non-fermentasi, selanjutnya mengalami processing sebagaimana pengolahan biji kopi lainnya. Lewat upaya budidaya luwak, Kopi Malabar telah berhasil mengembangbiakkan luwak melalui perkawinan. Terlebih saat ini luwak merupakan hewan yang dilindungi mengingat populasinya yang semakin menipis.

Beberapa produk yang dihasilkan oleh Kopi Malabar Indonesia adalah buah kopi dan bibitnya, mesin kopi serta berbagai jenis kopi seperti Gourmet Arabica Coffee, Specialty Arabica Coffee dan Luwak Arabica Coffee. Dengan adanya pola kemitraan yang dijalankan maka Kopi Malabar Indonesia siap berkembang lebih maju dan untuk itu diperlukan media komunikasi visual yang dapat menyampaikan keunggulan Kopi Malabar Indonesia, serta kemasan yang sesuai dengan kebutuhan serta memiliki karakter yang tepat.

Di bawah ini adalah proses pembuatan kemasan serta materi komunikasi visual pendukungnya dalam beberapa alternatif desain untuk kebutuhan Kopi Malabar Indonesia, hasil eksplorasi Alam Ghulam Alia, Angie Febrianie, Claudia Megacindy, Katarina Nadya, Michael Henoch, Riefky Surya Delfiandrie. Mereka adalah para mahasiswa DKV School of Design BINUS University, yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

alternatif desain kemasan (1)

alternatif desain kemasan (1)

alternatif desain kemasan (2)

alternatif desain kemasan (2)

alternatif desain kemasan (3)

alternatif desain kemasan (3)

  admin   Apr 16, 2015   Blog   1 Comment Read More

Madu Hutan Tesso Nilo

TAMAN NASIONAL TESSO NILO merupakan kawasan hutan terluas di Pulau Sumatera yang dapat berfungsi sebagai paru-paru dunia. Berdasarkan temua para ahli biologi, kawasan ini memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan tertinggi di dunia, jumlahnya tidak kali seperti yang ditemukan di wilayah Hutan Amazon, Brasil. Tesso Nilo merupakan kawasan konservasi Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatrensis) yang masih ada di Riau.

Dengan kondisi alam yang demikian, madu hutan merupakan potensi produk yang dapat dikembangkan untuk mendukung upaya pelestarian hutan dari ancaman yang disebabkan oleh manusia seperti penebangan liar, perambahan dan pembakaran hutan.

Di bawah ini adalah progres dari beberapa alternatif desain identitas visual Madu Tesso Nilo, hasil eksplorasi Ronald Christanto, Yoseph Aji Wibowo, Ngo Felix, Valdi Haris, Kevin Sim dan Indra Pramana, yaitu para mahasiswa DKV School of Design BINUS University yang turut mendukung kegiatan Festival Panen Raya Nusantara.

Diskusi pembuatan sketsa kampanye Madu Tesso Nilo

Diskusi pembuatan sketsa kampanye Madu Tesso Nilo

Beberapa sketsa untuk identitas kampanye madu Tesso Nilo..

Beberapa sketsa untuk identitas kampanye madu Tesso Nilo..

  admin   Apr 15, 2015   Blog   0 Comment Read More
Page 3 of 612345...Last »