Blog

Cerita Sagu Riau

Sagu Riau

Ini cerita sagu dari Riau, ya dari Riau, karena sagu tak melulu dari Timur Indonesia. Dibudidaya dan diolah oleh Kelompok pengolah sagu desa Sungai Tohor, kecamatan Tebing Tinggi Timur Kabupaten Meranti dengan penuh kesadaran dengan memperhatikan karakter lingkungan di mana mereka tinggal: kawasan gambut.

Sagu bagi masyarakat Sungai Tohor adalah penggerak utama perekonomiannya, karena 80% kehidupan masyarakat bergantung dari sagu, baik sebagai petani, pengusaha kilang, buruh kebun dan kilang sagu, serta penghasil dan penjual produk olahan sagu. Produk olahan sagu merupakan kreasi yang dibuat oleh masyarakat untuk menambah penghasilan keluarga. Bahannya diperoleh dari kilang sagu masyarakat yang mulai memproduksi sagu basah organik sendiri sejak tahun 2000-an setelah sebelumnya masyarakat hanya menjual pohon sagu dalam bentuk tual (potongan pohon sagu).

  admin   Apr 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

Tenun Rongkong

Tiap motif punya cerita. Itulah kira-kira yang dihasilkan tenun rongkong, lebih dari sekadar sehelai kain. Kain tenun rongkong dihasilkan oleh komunitas adat rongkong yang mendiami kawasan Tana Luwu, Sulawesi Selatan.

Produksi tenun, meski dilakukan di sela-sela kegiatan utama seperti bertani dan berkebun, diorganisasi dengan teliti. Tiap kelompok tenun terdiri dari: pemilih kapas, penggulung kapas, penggulung benang, penenun, dan penumbuk kayu pewarna. Tenun rongkong saat ini terancam punah, karena kurangnya pengrajin yang membuat.

Foto di bawah adalah draf logo komunitas rangkong, karya Merry mahasiswa DKV Universitas Tarumanegara. Ini adalah bagian dari pra-festival Panen Raya Nusantara #parara.

Tenun Rongkong

Mau tau cerita lebih lanjut dan melihat motif tenunan rangkong dengan mata kepala sendiri? Jangan lewatkan Panen Raya Nusantara #parara yang akan hadir 6-7 Juni mendatang.

  admin   Apr 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

Sego Sae

Kelompok Betani Lumbung Tani Lestari adalah cerita tentang 240 orang anggotanya yang mencoba bangkit dari sisa-sia Gempa Jogja 2006. Mereka tak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan bergantung pada benih impor dan pestisida dan pupuk kimia. Yang pertama tak tahan disimpan di lumbung. Akibatnya cadangan pangan rentan terganggu. Sementara yang kedua mengkibatkan kelembutan dan kesuburan tanah terkuras habis.

Dengan semangat kembali kepada tradisi nenek moyang, para petani menggunakan benih-benih lokal dan menghasikan beras merah, beras putih, beras hitam, serta aneka kacang-kacangan. Tanpa pupuk kimia, apalagi pestisida. Dengan prinsip berdamai dengan alam, tidak ada penggunaan racun atau setrum untuk membasmi tikus. Alih-alih, para petani memilih menanam kacang-kacangan untuk mengusir hama pengerat itu.

Beras hasil kerja keras para petani dikemas dan dipasarkan dengan merek dagang Sego Sae. Sego berarti beras dalam bahasa jawa kasar sementara Sae adalah “baik” dalam bahasa jawa halus. Memadankan dua kata dari kasta bahasa yang berbeda ini dimaksudkan untuk menonjolkan prinsip kesetaraan atau #adil Sementara Sae bermakna kebaikan yang tidak cuma berlaku peningkatan kesejahteraan petani, tapi juga kebaikan untuk tubuh, untuk tanah, untuk alam secara keseluruhan alias #lestari.

Di bawah ini adalah alternatif logo untuk produk Sego Sae, hasil karya mahasiswa DKV Universitas Tarumanegara. Mana yang paling cihuy menurutmu?

 

Sego Sae

 

Sego Sae mencerminkan semangat PanenRayaNusantara #PARARAyait#adildanlestari. Sego Sae dan para pembudi dayanya juga akan hadir di festival ini.

  admin   Apr 13, 2015   Blog   0 Comment Read More

Minyak Kayu Putih Walabi dari Wasur

Tak lengkap rasanya jika perlengkapan bayi atau tukang urut tanpa minyak kayu putih, pasti selalu ada minyak kayu putih untuk dipakai kalau badan tidak enak, perut kembung atau sakit perut lainnya, masuk angin, gatal akibat gigitan nyamuk, atau untuk memberikan rasa hangat, dan minyak kayu putih juga dikenal sebagai antiseptic sejak dahulu kala.Begitu juga dengan masyarakat suku Marind Kanum, yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Wasur, Papua, telah mengenal minyak kayu putih sebagai obat dan juga penghangat tubuh.

Pohon kayu putih jenis Asteromyrtus symphyocarpa banyak tumbuh di sekitar kawasan Taman Nasional Wasur di Merauke, Papua. Kelompok masyarakat, khususnya kelompok ibu-ibu, memetik daun pada musim kerin, kemudian menyuling daun sampai menghasilkan minyak yang kadar cineol sangat bagus yaitu 60% (sesuai standar nasional). Aromanya sangat khas dan kental, namun kalau tangan ataupun kulit disapu dengan minyak tidak lengket/berminyak.

Masyarakat melakukan kegiatan penyulingan kayu putih ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, namun juga sebagai usaha kecil penghasil pendapatan tambahan. Dengan hasil juelana minyak kayu putih, beberapa keluarga sudah bisa mensekolahkan anaknya.

Demi menjaga kelestarian pohon kayu putih, masyarakat menyepakati beberapa aturan dalam proses pengambilan daun: pohon tidak boleh ditebang, daun tidak boleh dipetik habis, dan lokasi pengambilan digilir secara berkala.

Keterlibatan masyarakat suku Marind dalam produksi minyak kayu putih ini telah memberikan manfaat konservasi langsung berupa pengelolaan hutan secara lestari dan juga turunnya aktifitas berburu di kawasan Taman Nasional, seperti rusa, Kasuari dan Kanguru.

Minyak kayu putih ini dijual oleh Kelompok-Kelompok penyuling kepada Yayasan Wasur Lestari, sebuah organisasi yang membantu promosi dan pemasaran minyak kayu putih oleh masyarakat. Minyak dikenal dengan merek WALABI, binatang sejenis Kanguru, spesies endemic di TN Wasur.

Distributor:

Sila hubungi: Yayasan Wasur Lestari

Jl. Ahmad Yani, Muli, Merauke

Telp: 0971 325 408

  admin   Apr 07, 2015   Blog   0 Comment Read More

Madu Alam Gunung Mutis

madu alam gunung mutis

 

Madu alam Gunung Mutis adalah produk manis lebah Avis Dorsata yang menyerap nectar bunga pohon Kayu Putih (Eucalyptus Alba) saat mekar pada bulan Juni dan July di kawasan sekitar Cagar Alam Gunung Mutis di Timor (NTT).

Masyarakat adat yang memegang tampuk kekuasaan atas wilayah Suf atau wilayah adat yang menjadi tempat tumbuh Pohon Kayu Putih telah membantu revitalisasi aturan pemanfaatan kawasan-kawasan Suf agar pohon-pohon yang ada, termasuk pohon madu, terjaga dengan baik dari kerusakan dan kebakaran hutan, dan fungsi kawasan hutan sebagai wilayah tangkapan air untuk wilayah sekitarnya ditingkatkan.

Madu alam dipanen secara organis oleh 176 keluarga dalam empat  10 kelompok tani yang bergabung dalam Jaringan Kelompok Masyarakat Mutis-Babnai untuk membantu pemasaran produk madu ke kota dengan harga yang adil.

Pada saat panen, sarang lebah diambil lalu diiris dan ditiriskan pada media saringan yang terbuat dari stainless steel dan tanpa remas tangan. Hasilnya adalah madu organis dengan kadar air yang pas yaitu sekitar 21%, dan juga mengandung enzyme diastase positif yaitu enzyme yang berfungsi untuk mengurai pati, protein dan glikosida,

Madu Mutis telah dipasarkan di Soe (kota kabupaten) dan Kupang (kota provinsi) dengan dijual pada toko-toko dan koperasi-koperasi pada beberapa kantor pemerintah. Jaringan Kelompok Masyarakat Madu Mutis sudah menjadi anggota JMHI.

Produsen dan distributor:

Jaringan Kelompok Masyarakat Mutis-Babnai.

Kecamatan Fatumnasi, Timor Tengah Selatan, NTT

a/n Novemris Tefa

HP: 085253311828

E-mail: yfnomeni@yahoo.co.id

  admin   Apr 07, 2015   Blog   0 Comment Read More

Apa itu Perdagangan yang Berkeadilan?

Perdagangan yang berkeadilan adalah kegiatan yang mengutamakan dialog, saling menghormati, dan transparansi, demi mencapai kesetaraan dalam perdagangan internasional.

Bentuk perdagangan ini berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dengan menawarkan mekanisme perdagangan internasional yang lebih baik, antara lain dengan menjamin hak-hak produsen dan pekerja yang terpinggirkan, khususnya produsen yang berada di belahan bumi Selatan.

Organisasi dagang berkeadilan memiliki komitmen utama pada perdagangan yang berkeadilan. Organisasi ini didukung oleh konsumen untuk berperan aktif mendukung para produsen dan berusaha meningkatkan kepedulian demi perubahan kebijakan yang selama ini mendasari sistem perdagangan internasional konvensional.

Perdagangan yang berkeadilan lebih dari sekedar berdagang

Perdagangan yang berkeadilan membuktikan bahwa keadilan dalam perdagangan dunia adalah mungkin

Perdagangan yang berkeadilan mendorong kepentingan perubahan kebijakan dalam perdagangan konvensional dan memperlihatkan bahwa usaha yang sukses dimungkinkan juga oleh mendahulukan kepentikan manusia.

Perdagangan yang berkeadilan memberi kontribusi nyata pada perang melawan: kemiskinan, perubahan iklim, dan krisis ekonomi.

Diterjemahkan secara bebas dari World Fair Trade Organization

  admin   Apr 01, 2015   Blog   0 Comment Read More

Cerita Motif: Dawatn Danan

Dawatn Danan ( Daun Rotan Danan) Bentian & Eheng – Rotan Danan adalah salah satu jenis rotan yang hidup di hutan ataupun simpunkng masyarakat Dayak Benuaq. Rotan Danan digunakan untuk membuat tempat ayam, kandang dan lantai pada pondok di ladang. Motif ini terinspirasi dari daun rotan Danan.

Dayak Benuaq merupakan bagian dari Keluarga Dayak Ot Danum. Benuaq di ambil dari kata Benua yang artinya wilayah atau spesifik area, seperti kota atau negara, atau tempat tinggal suatu kelompok atau masyarakat. Leluhur Dayak Benuaq memiliki kepercayaan animisme dan mereka percaya bahwa alam semesta dan semua makhluk hidup memiliki semangat dan perasaan, dan salah satu hal yang kurang adalah kecerdasan. Mereka diwajibkan merawat seluruh alam semesta termasuk tumbuhan dan hewan, dengan cinta dan kepedulian. Saat ini masyarakat Dayak Benuaq sudah memeluk agama Kristen Protestan dan Katholik, tetapi mereka masih menjalankan adat istiadat maupun upacara adat yang telah dilakukan secara turun temurun, misalnya seperti: upacara kelahiran, upacara Perkawinan, upacara Kematian, dan upacara belian. Belian dapat disebut juga upacaranya atau orang yang melakukan upacara tersebut. Belian (dukun/tabib) bisa lelaki maupun perempuan.Takin

 

  admin   Mar 12, 2015   Blog   0 Comment Read More

Kolaborasi dengan Mahasiswa SoD Bina Nusantara

Meningkatkan nilai produk komunitas lokal dengan berkolaborasi dengan mahasiswa SoD Universitas Bina Nusantara

Senin, 2 Maret 2014, Tim #PanenRaya bertandang ke School of Design (SoD) Universitas Bina Nusantara. Berjumpa dengan mahasiswa fakultas Desain Komunikasi Visual untuk memulai kegiatan kolaborasi membuat kampanye sosial bagi banyak komunitas lokal di Nusantara. Para mahasiswa di bawah bimbingan dosen-dosennya, akan mengolah isu, cerita, dan fakta komunitas lokal, menjadi berbagai materi kampanye yang bertujuan dapat mendorong pemahaman yang lebih baik tentang mereka di tengah publik.

Pesan utamanya yang akan diutamakan adalah Adil dan Lestari.

Dalam kegiatan ini, para mahasiswa mendapatkan wawasan mengenai situasi lingkungan hidup terkini dan masyarakat pendukungnya dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI). Beberapa usaha penyelamatan lingkungan dan pemberdayaan komunitas adat disampaikan oleh Non-Timber Forest Product Exchange Program (NTFP-EP) Indonesia dan Yayasan Keanekaragama Hayati (KEHATI). Berasa dengan parara, di satu dari lima kelas yang ada, parara berbagi bersama Dian dari Kelompok Ruang Jakarta (RUJAK) yang menceritakan beberapa inisiatif lokal masyarakat kota dalam mempertahankan dan melindungi lingkungannya.

  admin   Mar 08, 2015   Blog   0 Comment Read More

Mahasiswa DKV Tarumanagara dan PARARA

Kolaborasi: Menambah Nilai Produk Komunitas bersama Universitas Tarumanegara

Tim #parara kali ini jalan-jalan ke ruang kelas R503 di Fakultas Design dan Seni Rupa Universitas Tarumanegara. Kunjungan ini diniatkan sebagai kegiatan berbagi wawasan sebagai bekal mahasiswa-mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Untar merancang mengomunikasikan pesan-pesan produk-produk komunitas lokal dan cerita di belakangnya secara visual.

Tim #parara terdiri dari Walhi Nasional, Non-Timber Forest Product – Exchange Program (NTFP-EP) Indonesia, dan Yayasan Keanekaragaman Hayati (KEHATI). Ferdinand dari Walhi bercerita tentang produk sagu, yang uniknya dibudidaya oleh komunitas di Meranti, Riau, Sumatra, bukan di Indonesia bagian Timur seperti yang selama ini dikenal. “Sagu nggak cuma dimanfaatkan nilai ekonomisnya, tapi juga berfungsi untuk mempreservasi lahan gambut yang kaya karbon.” katanya.

Kegiatan di Hari Kamis, 5 Maret 2015 ini adalah kegiatan kolaborasi mahasiswa dengan komunitas lokal dan Lembaga Swadaya Masyarakat, pendampingnya. Selanjutnya kerja kedua belah pihak akan intensif mendiskusikan bagaimana memunculkan produk-produk keren, adil, dan lestari ini mendapatkan dukungan dari publik yang lebih luas.

Nantikan hasilnya di Festival Panen Raya pada Juni mendatang.

  admin   Mar 08, 2015   Blog   0 Comment Read More

Garuda Jaya

GARUDA JAYA (Nusantara Raya) Lagu: Sri Krishna (d/h Encik Krishna) Aransemen: Sri Krishna. Lirik: Sri Krishna, Ong Hari Wahyu, Ade Aryana Uli Pandjaitan, Samuel Indratma, Bambang Setya Nusantara.

  admin   Jan 19, 2014   Audio, Blog   2 Comments Read More
Page 5 of 6« First...23456