Berita

Kerajinan dan Penguatan Ekonomi Perempuan


"Perempuan dalam kehidupannya merupakan tiang dalam memenuhi hidup sehari-hari keluargnya. Perempuan merupakan penompang yang paling tangguh, karena biasanya laki-laki perannya dalam rumah tangga sehari-hari bekerja sebagai petani yang penghasilannya berupa bulanan sehingga perempuan disini mengambil peran untuk menyelatkan konsumsi hidup keluarganya".

Hal ini juga disampaikan Titik Hartini dari Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK). Titik menceritakan bahwa dulunya kerajinan tangan perempuan khususnya tenun, tidak diperjual belikan. Namun kerajinan tenun semakin berkembang tatkala ketika mereka harus berjuang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari.

ASSPUK merupakan lembaga nirlaba yang mendampingi ribuan perempuan usaha kecil dan kelompok perempuan usaha kecil-mikro yang tersebar di 22 provinsi diseluruh Indonesia. Saat ini produk tenun merupakan produk unggulan dari berbagai komunitas perempuan penenun. Setidaknya ada 1.530 perempuan penenun di seluruh Indonesia.

"Saat kita memasuki masyarakat ekonomi Asia (MEA) maka kita harus mampu bertahan. Ada beberapa contoh yang saat ini terjadi dimana masuknya batik dari Cina, membuat batik hasil dari kerajinan Solo menurun. Hal ini yang harus kita perhatikan," ujar Titik.

"Kita harus pertahankan produk tenun, agar menjadi ciri khas kita. Sehingga tidak terpengaruh dengan produk-produk yang masuk ke Indonesia. Hak intelektual masyarakat saat masuknya MEA harusnya telah menjadi hak paten dahulu agar tidak ditiru oleh Negara lain."

Tantangan kedepan menurut Adinindyah dari Lawe, komunitas bisnis sosial adalah mengejar ketersediaan bahan baku tenun berkualitas.

"Saat ini kita memang terkendala dalam hal memenuhi bahan baku itu sendiri. Dan tandatangan kita adalah bagaimana membuat identitas kita dari hasil keranjinan yang kita buat dan tidak diproduksi secara massal. Jika sudah diproduksi secara masal tentu akan menghilangkan identitas dari tenun itu sendiri."

Tenun dan Menikah

Masyarakat dari suku Boti Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini masih menjaga tradisi dengan mengajarkan anak perempuan mereka dari usia lima tahun harus sudah pandai belajar menenun. Jika belum pandai menenun tidak boleh menikah. Untuk anak laki-laki sudah harus pandai berkebun untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika laki-laki kurang dalam penghasilan perempuan dapat membantu suami dengan cara menenun.

Tradisi ini juga berlaku bagi perempuan suku Kajang di Bulukumba Sulawesi Selatan. Perempuan yang ingin menikah sudah harus bisa memiliki keterampilan menenun. Bedanya di Kajang mereka harus menenun sebanyak 50 lembar kain untuk diberikan kepada mertuanya. Jika tidak ada penenun di Kajang, menyebabkan kurangnya kebutuhan dalam rumah tangga. Di Kajang supaya hasi tenunnya mengkilap menggunakan caking keong dari laut dan digosokkan sehingga menghasikan warna cerah yang mengkilap.

Berita Terkait


Madu Dari Lebah Rinjani »

Kelompok Tani Sari Madu, desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dengan hasil panen berupa madu, terbentuk tanggal 10 Juli 2006 silam.

Siaran Pers Festival Panen Raya Nusantara 2017 »

MENUJU EKONOMI KOMUNITAS LOKAL YANG ADIL DAN LESTARI

Jakarta – Sebanyak 85 lebih komunitas lokal dari seluruh nusantara akan hadir di Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) , yang akan digelar pada 13 – 15 Oktober 2017,  di Taman Menteng  Jakarta Selatan.

UKM Pangan Award: Upaya Pemerintah Dukung UKM Pangan »

Pemerintah mendukung keberadaan dan kemajuan Usaha Kecil Menengah (UKM) pangan melalui UKM Pangan Award.