Berita

Hutan Bukan Hanya Kayu


Talkshow hutan bukan hanya kayu merupakan diskusi yang memberikan pemahaman tentang peran hutan dan keragaman hayatinya. Hutan seharusnya tidak hanya dilihat dari kayu saja tetapi apa yang dihasilkan dari hutan tersebut.

Dalam talkshow ini mendatangkan pembicara dari Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta. Komunitas Rimba Lestari Nuri, Komunitas Sungai Tohor Kepulauan Riau Zamhur, serta Rudi Syaf dari Kampung Bontae Kalimantan timur.

Dalam talkshow tersebut Kepala Badan Litbang Kehutanan Bambang mengatakan bahwa “pola pikir pemerintahan yang terjadi saat ini, sudah banyak terjadinya perubahan yang pesat dimana dulu kita memiliki pola bis manajemen sekarang sudah mengacu kepada resource manajemen dimana ada perubahan dimana dulu kita hanya mengambil sekarang kita melakukan manajemen hutan dan bagaimana mengelolanya dengan baik,”

“ Dalam hal ini telah diatur dalam Permenhut kehutanan, dimana ada 559 jenis hasil olahan non kayu yang telah kita identifikasi berguna untuk menunjang kehidupan masyarakat disekitar kawasan hutan. Yang utama yang kita kelola dan promosikan adalah madu hutan, bamboo, benang sutra. Untuk tanaman hutan yang paling berpotensi untuk dijadikan energy adalah tanaman nyamrong,”.

“Dari 559 jenis produk bukan kayu sudah dimanfaatkan keseluruhannya untuk masyarakat. Lima yang saya sebutkan tadi adalah sebagai produk unggulan dan pemanfaatannya bersama-sama. Saat ini kemenyan di Provinsi Papua sudah punah, dan saat ini kita sedang mengembangkan bibiti pohon kemenyan untuk dikembangkan oleh masyarakat,” ujar Bambang Kembali.

Sementara itu, Deputi II Bidang Produksi Kementrian Koperasi Dan UKM, I Wayan Dipta juga mengomentari mengenai produk hutan bukan kayu yang telah dikembangkan oleh Kemetrian UKM. Dimana sejak tahun 2000 Kementrian UKM sudah memberdayaakn masyarakat disekitar hutan untuk mengelola dan menjadikannya sebagai produk yang harus mereka kelola sendiri.

“Salah satu produk dampingan dari UKM adalah Madu Gaharu yang telah kita bina. Kunyit jahe bahkan sudah kita eksport keluar negeri dan diminati oleh masyarakat disana. Kunyit merupakan produk perdana yang kita kirim ke Amerika, dimana kunyit yang kita ekspor merupakan produk sekitar kawasan hutan Garut,” Ujar Wayan

Masih dalam paparan Wayan, kami mendorong masyarakat disekitar kawasan hutan untuk berkoperasi agar nantinya mereka menjadi tangguh. Sebenarnya kendala dari masyarakat bukanlah kendala modal tetapi terkendala oleh bagaimana pemasarannya. Dan untuk mendorong agar permasalahan tersebut tidak berlanjut, kita memberikan hak cipta produk secara gratis.

Produksi Terkendala Oleh Perubahan Fungsi Hutan

“Masyarakat petani yang memproduksi hasil hutan bukan kayu adalah produsen, sebagai produsen mereka membutuhkan keamanan untuk dia mengelola produksi nya. Tetapi saat ini banyaknya izin yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk mengelola hutan menjadi kawasan konsensi HTI, HPH membuat masyarakat disekitar hutan kurang berproduksi.,” ujar Ecosistim Alliance (EA) Rudi.

“Saat ini produk yang dihasilkan oleh masyarakat disekitar kawasan hutan menjadi tidak ekonomis, dimana saat ini masuknya ekspansi sawit telah mengubah pola konsumsi masyarakat serta pola pikir mereka. Dapat kita lihat dari permasalahan hilangnya Jernang, dimana kita ketahui bahwa jernang rotan hidupnya berada di bawah pohon. Berkurangnya hutan akibat alih funsi lahan mengakibatkan hilangnya bibit-bibit jernang. Hal ini yang sangat kita sayangkan sekali,” ujar Rudi.

Dari data yang dimiliki oleh EA dari tahun 1990 – 2000 kawasan hutan berkurang sebanyak 50 %. Dan pada tahun 2000 – hingga 2013 terjadi kekurangan kawasan hutan sebanyak 20 % dimana total dari keseluruhan berkurangnya kawasan hutan sebesar 70 % untuk hutan Sumatera.

Dan ini merupakan tantangan untuk teman-teman NGO agar terus menadmpingi masyarakat supaya masyarakat dapat mempertahankan kawasan hutannya agar tidak berkurang.

Sementara itu, Jamil Bantae warga desa lampao Sulawesi selatan mengeluhkan hal yang sama, dimana kawasan hutan di areal hutan desa mereka juga terjadi pengalihan fungsi kawasan. Namun saat ini masyarakat telah mendapatkan haknya dalam mengelola hutan Negara dalam bentuk hutan desa. Sebesar 420 Ha hutan desa yang dikelola telah menghasilkan produk-produk non kayu berupa Madu, Rotan, tikar pandan dll.

“Kami berharap adanya peningkatan mutu yang kami hasilkan, terkait kualitas dari kami memang masih sangat kurang. Permsalahan utama yang saat ini kami hadapi adalah para tengkulak yang mengambil hasil dari kami dengan harga yang sangat murah sekali.”

Di tempat yang sama, Zamhur masyarakat dari Tebing Tinggi Kepulauan Meranti menyatakan bahwa kami melestarikan hutan dengan menanam sagu. Kami memelihara hutan agar tetap terpelihara. Ada tanaman buah-buahan salah satunya buah asam yang kami olah menjadi manisan. Di Meranti kami tidak memerlukan alatalat dari pemerintah karena kami hanya perlu parang dan kapak, namun saat ini kami sangat kesulitan untuk menumbuhkan anak sagu karena tempat menaman sagu selalu mengalami kekeringan. Hal ini dikarenakan bahwa adanya kebijakan pemerintah yang memberikan izin kepada perusahaan sehingga membuka kanal sehingga air berkurang di kawasan kami.

“Di Meranti kawasan kami tersebut tergolong unik, karena lahan kami berupa lahan gambut. Dimana gambut memerlukan air yang cukup banyak agar lahan gambut yang terbentuk dari serahan bahan organic seperti akar-akar dan daun daunan tersebut tidak menjadi kering dan terbakar.”

Rawa gambut sangat sensitive, dimana ketika membuka lahan secara kanalisasi sangat banyak sekali sehingga gambutnya menjadi rusak. Sagu sangat ramah lingkungan untuk menjaga ekosistem rawa gambut. 

Berita Terkait


Ulap Doyo Tenun Khas Dayak Benuaq »

Salah satu komunitas yang akan bergabung di Festival PARARA 2017 adalah Tilita, dari suku Dayak Benuaq.

Upaya PARARA Mendukung Hari Pangan Sedunia »

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017 akan diselenggarakan pada 13-15 Oktober 2017.

Kilas Balik: PARARA Perdana di 2015 »

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) untuk pertama kalinya diadakan pada 2015 lalu.