Berita

Pangan Dan Keanekaragaman Hayati Di Dataran Tinggi Krayan


Beragam sayur-sayuran dan buah-buahan yang dijual hari ini berasal dari hutan atau tempat lain. Hasil panen tersebut sudah sejak lama ditanam oleh nenek moyang para petani hingga hari ini. Seiring waktu, hasil sayur-sayuran dan buah-buahan tersebut telah tersebar ke seluruh benua untuk dijadikan 'makanan pokok'. Ini merupakan praktek masyarakat lokal yang membentuk keragaman dalam pilihan makanan yang tersedia saat ini.

Pertanian merupakan cara di mana kita dapat memproduksi makanan, tetapi juga cara kita mengelola lahan dan sumber daya serta membentuk hubungan ekonomi, sosial dan budaya. Dataran Tinggi Jantung Borneo menawarkan beragam pemandangan mempesona. Terletak pada ketinggian antara 760 meter dan 1.200 meter, membuat suhu di sana menjadi cukup dingin pada malam hari. Hamparan sawah luas yang dikelilingi pohon bambu dan buah-buahan terletak di lereng gunung dan ditutupi dengan hutan yang lebat, serta sungai yang berliku dan berjeram menjadi salah satu pemandangan yang khas disana. Masyarakat dan alam sekitar nampaknya telah bekerja sama dengan baik untuk membuat sebuah pemandangan menakjubkan dengan cara yang indah dan berkelanjutan.

Selama berabad-abad, masyarakat lokal disana telah mengubah bagian bawah lembah di sawah dan menciptakan siklus pertanian berkelanjutan yang dekat dengan peternakan kerbau. Secara lokal, baik sawah basah maupun kering sama-sama digarap, dan kebun-kebun yang ada juga dibudidayakan serta ditanami dengan berbagai macam jenis sayur-sayuran dan buah-buahan.

Perjalanan ke Dataran Tinggi Krayan akan memukau para pengunjung yang datang kesana dikarenakan oleh tingginya keranekaragaman hayati yang dimiliki. Hasil survei menunjukkan bahwa, misalnya, terdapat lebih dari 40 varietas padi yang ditanam dan dibudidayakan di daerah ini. Keragaman tanaman pangan lokal dan sumber daya yang ada bukan hanya sebuah cara yang baik untuk melestarikan keanekaragaman hayati, namun juga dapat menjaga kualitas dan berbagai sumber nutrisi serta salah satu cara yang penting untuk membangun ketahanan dan kemampuan beradaptasi. Dengan menjaga pangan, masyarakat setempat akan lebih mampu mengatasi masalah-masalah seperti perubahan iklim ataupun tantangan lingkungan lainnya.

Beras Adan merupakan beras terbaik di antara varietas padi lokal yang hingga saat ini masih dibudidayakan di Krayan dan daerah Dataran Tinggi lain. Terdapat tiga varietas yang berbeda: putih, merah dan hitam. Beras ini terkenal dengan biji-bijian kecil dan tekstur halus serta rasa yang enak. Tingginya karbohidrat (varietas putih) dan kandungan mineral (varietas hitam) membuat beras ini mampu memberikan kontribusi untuk nilai gizi yang sangat baik.

Beras Adan dibudidayakan sesuai dengan cara-cara tradisional dan organik oleh para petani Dataran Tinggi baik di Sarawak maupun di Krayan (Kalimantan). Setiap keluarga mengolah antara satu hingga lima hektar sawah dan proses penanamannya dikerjakan dengan usaha yang cukup keras. Air yang bersih dan segar dialirkan oleh pipa bambu atau parit alami ke sawah. Kerbau tidak digunakan untuk membajak namun setelah panen dilepaskan ke sawah untuk meratakan tanah, memakan hama serta menyuburkan tanah, sehingga membuat sawah siap diolah untuk musim selanjutnya. Beras Adan ditanam setahun sekali. Pembibitan biasanya dimulai sekitar bulan Juli dan penanaman dilakukan setelahnya. Musim panen dimulai sejak akhir Desember hingga Februari.

Pada tahun 2012, Beras Adan dari Dataran Tinggi Krayan dianugerahi sertifikat Indikasi Geografis (GI) oleh pemerintah Indonesia sebagai pengakuan atas karakteristik yang unik atas padi lokal ini. Hanya beras dari Dataran Tinggi Krayan yang dapat dipromosikan dan dipasarkan dengan nama beras Adan Krayan. Dan baru-baru ini, Beras Adan dari Krayan juga terdaftar di Slow Food Ark of Taste. 

(http://www.slowfoodfoundation.com/ark/details/1982/black-adan-krayanrice#.U5av56WpM7E)


Berita Terkait


PARARA 2017 Hadirkan Keriaan dan Keakraban di Malam Pembukaan »


Festival Penen Raya Nusantara (PARARA) 2017 bukan sekedar acara yang mengumpulkan keramaian.

Upaya PARARA Mendukung Hari Pangan Sedunia »

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017 akan diselenggarakan pada 13-15 Oktober 2017.

SIARAN PERS: PARARA Fashion Show, Menjaga Tradisi dan Merawat Bumi Lewat Fashion »

Sabtu, 15 Oktober 2017 bertempat di Taman Menteng Jakarta Pusat, empat desainer kebanggaan Indonesia menampilkan karya-karya terbaiknya.