Berita

Pesantren Ath Thaariq; Pesantren Ramah Lingkungan


Pesantren Ath Thaariq terletak di dekat area Perkantoran Pemerintahan Daerah (Pemda) Kabupaten Garut. Berada di tengah persawahan yang tersisa dari kepungan proyek perumahan. Pesantren ini berlokasi di tengah perkampungan urban, dimana penduduknya sebagian berasal dari desa–desa sekitar Garut yang datang ke kota untuk mengadu nasib. Pesantren ini juga berada sangat dekat dengan sebuah Perguruan Tinggi, tepat di Kelurahan Sukagalih RT/RW 04/12, Kecamatan Tarogong Kidul.

Uniknya, Pesantren ini didirikan oleh beberapa aktivis yang concern terhadap masalah – masalah agraria, demokrasi dan kemanusiaan pada tahun 2009 yang lalu. Sehari-hari pesantren ini diasuh oleh Nissa Wargadipura bersama suaminya Ibang Lukmanurdin, serta rekan-rekan mereka yang juga bergiat dalam Serikat Petani Pasundan.

Pesantren ini dihuni oleh para santri dari mulai usia anak-anak, mahasiswa hingga orang tua. Saat ini ada sekitar 100 orang santri yang belajar di Pesantren Ath Thaariq, dengan menggunakan sistem pembelajaran diskusi, sorogan dan bandungan.

Setiap santri didorong untuk bekerja keras, kreatif, inovatif, dan berpikiran kritis terutama di bidang produksi pertanian dan peternakan “lokal”. Bagian ini adalah upaya-upaya untuk membiasakan diri agar lebih mandiri dan tidak tergantung pada produk luar yang belum tentu bermanfaat bagi kehidupan masa depan mereka. Pesantren Ath Thaariq mendidik santrinya yang tinggal di pondok untuk mengkonsumsi pangan (terutama karbohidrat) tidak saja beras, namun juga jagung, talas, gadung, singkong dan sukun. Indonesia sangat kaya, punya beragam jenis pangan lokal yang dapat memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Sebenarnya, tercatat ada ada 77 jenis karbohidrat yang tersedia di sekitar kita. Namun, pemerintah mengandalkan beras dan terigu yang 100% diimpor. Begitupun asupan protein yang terdiri dari kacang – kacangan lokal, sayuran lokal serta buah-buahan lokal. Semua diproduksi sendiri. Yang lokal lebih tahan, ramah dan sehat.

Selain itu, kebiasaan – kebiasaan berperilaku ramah lingkungan pun dibentuk sejak dini dan dibiasakan terus menerus oleh para pelaku belajar di pesantren, terutama para santri. seperti menyemai pohon keras yang bersifat tanaman rakyat yang menghasilkan, pengelolaan sampah dapur dan plastik, membuat kompos dari lingkungan sendiri, bertanam sayuran organik, hingga tidak memakai “pembalut” pabrikan.

Sesungguhnya aktivitas paling sederhana yang dilakukan setiap hari, dapat membantu memulihkan planet kita yang kian rusak ini. Kita harus memulai dari apa yang kita bisa. (Disampaikan oleh Nissa Wargadipura, Pimpinan Pesantren Ath Thaariq, Garut dan Pendiri Serikat Petani Pasundan.

(Disadur dari http://www.rahima.or.id)

Berita Terkait


Perlindungan Terhadap Kekayaan Tradisi Indonesia »

Kearifan tradisional Indonesia terancam jika tidak ada perlindungan dari pemerintah untuk mencatat dan melestarikannya.

Beras Adan Krayan Dari Dataran Tinggi Krayan »

Makanan sebagai nutrisi merupakan kebutuhan dasar dan hak asasi manusia.

SIARAN PERS: PARARA Fashion Show, Menjaga Tradisi dan Merawat Bumi Lewat Fashion »

Sabtu, 15 Oktober 2017 bertempat di Taman Menteng Jakarta Pusat, empat desainer kebanggaan Indonesia menampilkan karya-karya terbaiknya.