Berita

Madu Hutan Flores


Gapoktan Rita Bala adalah komunitas lokal di Flores Timur NTT dengan produknya madu hutan dan tergabung dalam Jaringan Madu Hutan Indonesia (JMHI). Petani madu di sini memiliki aktivitas dalam pengelolaan dan pemanfaatan madu hutan di saat musim panen. Selain itu, para petani juga melakukan metode panen yang dapat memelihara keberlangsungan hidup lebah hutan agar tetap bisa berproduksi secara berkelanjutan dan lestari.

Madu hutan merupakan satu dari lima produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang menjadi unggulan. Pengembangan madu hutan dikukuhkan menjadi prioritas utama dalam program Kehutanan tingkat nasional di tahun 2010-2019 karena diyakini dapat mengembalikan protensi multi fungsi hutan, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan berkontribusi nyata bagi kepentingan pemeliharaan lingkungan global karena secara tidak langsung melibatkan masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Kelestarian hutan menjadi penting mengingat sarang lebah Apis Dorsata yang merupakan penghasil madu, menjadi sumber pendapatan masyarakat (data Kemenhut 2009). Selain itu pengembangan madu hutan ditujukan untuk memenuhi permintaan pasar madu dalam negeri yang mencapai 3000 ton per tahun, namun hanya 30% saja yang dapat terpenuhi oleh produsen madu dalam negeri (Wismoro, 2013).

Madu hutan juga dikenal sebagai madu organik karena lebahnya mengambil nectar dari pohon-pohon yang ada di hutan, tanpa adanya campur tangan pestisida dan bahan kimia lainnya. Prosesnya pengambilan madunya pun cukup dengan mengambil sebagian dari sarangnya sehingga kelestariannya tetap terjaga. Selain itu pengolahannya pun sangat diperhatikan kebersihannya sehingga kualitas madu organik yang begitu tinggi dapat terjaga.

Sayangnya kebaikan-kebaikan yang datang dari alam ini kurang diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karenanya dibutuhkan upaya memperkenalkan Gapoktan Rita Bala dengan produk madunya kepada masyarakat luas termasuk pengusaha madu dalam negeri dengan menonjolkan keunggulan produk Gapoktan Rita Bala dan manfaat yang dapat diperoleh dengan meminum madu organik.

Berita Terkait


Kilas Balik: PARARA Perdana di 2015 »

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) untuk pertama kalinya diadakan pada 2015 lalu.

Ulap Doyo Tenun Khas Dayak Benuaq »

Salah satu komunitas yang akan bergabung di Festival PARARA 2017 adalah Tilita, dari suku Dayak Benuaq.

SIARAN PERS: Hak Kekayaaan Intelektual (HKI) Melindungi Produk dan Komunitas Lokal »

Jakarta, 14 Oktober 2017 – Persoalan pembajakan, plagiat dan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia masih kerap terjadi.