Berita

SIARAN PERS Pembukaan Panen Raya Nusantara 2017 - Menuju Ekonomi Komunitas Lokal Yang Adil dan Lestari


Jakarta, 13 Oktober 2017 – Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017 secara resmi dibuka oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Triawan Munaf di Taman Menteng, Jakarta Pusat, Jum’at 13 Oktober 2017. Turut hadir Ketua Konsorsium PARARA Jusupta Tarigan serta lebih kurang 85 lebih komunitas lokal dari seluruh nusantara.

PARARA 2017 mengangkat tema Jaga Tradisi, Rawat Bumi, yang menunjukan bahwa kearifan  leluhur bangsa Indonesia sudah terbukti berhasil dalam memanfaatkan sumber daya alam secara lestari dan mempertahankan alam sebagai bagian dari kehidupan komunitas dan bumi. Leluhur bangsa Indonesia dan komunitas adat sampai sekarang  mengambil sumberdaya alam dengan memperhatikan keseimbangan dengan alam dan daya dukungnya agar SDA tersebut tetap ada dan bisa dinikmati oleh generasi di masa depan.  Komunitas juga secara kolektif melakukan pengawasan akan kelestarian alam. Melalui PARARA, kita diajak untuk kembali mempraktikan menjaga tradisi serta merawat bumi untuk kelestarian sumberdaya alam dan kesejahteraan.

Triawan Munaf menyambut baik PARARA 2017 yang mengedepankan dan memberi kesempatan produk-produk lokal Indonesia untuk dikenal lebih luas, tidak hanya oleh masyarakat tapi juga membuka peluang untuk promosi sehingga lebih dikenal bahkan hingga mancanegara. Ia menekankan agar komunitas segera mendaftarkan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) atau Indicator  Geographical (IG).

“PARARA 2017 adalah representasi dari ekonomi kreatif dari seluruh nusantara bisa terbangun kalau kita mempunyai HAKI yang diandalkan. Produk-produk kreatif disini jika tidak dilindungi oleh HKI atau IG, dikhawatirkan akan diambil oleh org yang tidak berhak. Jangan lupa didaftarkan, sehingga produk yang dikembangkan dapat terlindungi dan menjadi produk yang bernilai ekonomi. Itulah artinya nilai tambah, value chain,” pesan Kepala BEKRAF.

Ketua Konsorsium PARARA Jusupta Tarigan mengatakan PARARA bertujuan mendukung ekonomi komunitas lokal secara adil dan lestari dimana pengelolaan  produk komunitas lokal nantinya dapat mempertahankan kearifan lokal dan  lingkungan. Dengan melestarikan produk berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat  identitas dan perekat bangsa. Apalagi Indonesia merupakan salah satu negara yang paling kaya dalam keanekaragaman hayati di dunia, sekaligus negara yang memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam.

“Mempromosikan produk komunitas dan meningkatkan akses pasar yang mampu menilai atau memberi reward produk tersebut dengan harga yang adil. Secara kualitas, produk lokal memiliki nilai dan potensi pasar yang mendunia. Kain tenun misalnya. Tenun tidak hanya menjadi warisan budaya, namun juga potensi wirausaha yang memiliki pasar di dalam dan juga luar negeri. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian kita untuk menjaga dan melestarikan produk-produk lokal Indonesia dan sekaligus komunitas produsen dan kearifan lokalnya,” ujar Jusupta Tarigan.

Selain produk kerajinan, PARARA juga mempromosikan pangan lokal Indonesia seperti sagu, sorgum dan pangan lainnya yang dapat mendukung kedaulatan pangan Indonesia. Sebagaimana kita tahu, Indonesia sebagai Negara agraris dan maritim, namun untuk kebutuhan pangan masih bergantung pada import. Demikian juga dengan kopi, sebagai komoditas lokal Indonesia yang memiliki kualitas bagus dimata dunia.

Untuk tujuan itu, PARARA mengajak semua pihak memberikan ruang bagi petani, nelayan, komunitas produsen sekala kecil dan mendukung dengan kebijakan dan praktek ekonomi yang lebih adil, ramah lingkungan dan mempertahankan juga ketahana di tingkat lokal terhadap perubahan iklim. PARARA diharapkan menjadi platform untuk mendukung  integrasi antara komunitas lokal, pasar dan juga kebijakan-kebijakan yang mengatur industri kreatif dan lokal. Sinergi lintas pelaku diperlukan dengan kondisi yang memungkinkan untuk ekonomi yang lebih memihak pada komunitas demi kesejahteraan dan keberlanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Triawan Munaf didampingi Jusupta Tarigan memukul tifa sebagai tanda dimulainya Festifal PARARA 2017. Triawan, beserta Jusupta dan seluruh tamu dan undangan yang hadir ikut menarikan tari Keiku Sagu asal Maluku. Tari ini merupakan tarian muda mudi yang biasa dilakukan saat panen sebagai tanda syukur.

Tentang PARARA

Festival PARARA merupakan agenda dua tahunan yang digagas oleh Konsorsium PARARA . Festival ini pertama kali diselenggarakan pada 2015 untuk mempromosikan dan menampilkan produk-produk kewirausahaan dari berbagai komunitas dan masyarakat adat. Produk-produk tersebut merupakan hasil upaya komunitas untuk mendukung kehidupan dan meningkatkan kesejahteraannya dengan memperhatikan keseimbangan antara alam dan manusia, dan berasal dari tradisi kearifan dan budaya komunitas tersebut.

Diantara komunitas yang hadir dalam PARARA 2017 adalah, Tilita (Perajin Serat Alam Doyo, Kutai Barat, Kalimantan Timur) dengan membawa produk (Tenun Doyo, asesoris bebrasis serat Doyo) mengatakan Festival PARARA memberikan ruang lebih besar bagi saya dan perajin tradisional lainnya untuk bertemu langsung dan mengenal  selera calon pembeli serta bisa memacu kreatifitas saya untuk mengembangkan produk.

Selain pameran produk kreatif, PARARA 2017 juga menghadirkan sesi seminar dan coaching klinik yang akan mengangkat topik-topik menarik seputar kewirausahaan, management keuangan, industri kreatif dan workshop craft. Bagi pencinta kopi dan dunia barista, ada sesi cupping dan kompetisi aeropress. Untuk anak-anak, ada kegiatan mendongeng yang akan diisi oleh PM Toh, pertunjukan kesenian tradisional , pagelaran busana yang melibatkan perancang individu dan dari sekolah mode Esmod dan Lasalle. Sementara sesi entertainment akan dimeriahkan oleh Jamaica Cafe, AriReda, Sandrayati Fay,The Kaborang dan Oscar Lolang.

Festival Panen Raya Nusantara di selenggarakan oleh :
Konsorsium PARARA
NTFP-EP,WWF Indonesia, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), ASPPUK, JKTI, KEHATI, GEF SGP,Kemitraan, RECOFTC, Koperasi Produsen AMAN Mandiri (KPAM), Aliansi Organis Indonesia (AOI), Samdhana Institute, Jaringan Madu Hutan Nusantara (JMHI) , Jasa Menenun Mandiri, Sintang ,Yayasan Riak Bumi -Pontianak, Yayasan Dian Tama -Pontianak, Perkumpulan Indonesia Berseru (PIB), Rumah Organik, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat (FKKM),WARSI, Jambi , Yayasan Anak Dusun Papua (YADUPA) Jayapura, Yayasan Mitra Insani (YMI) Riau, Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) Lampung, Yayasan Palung, KIARA, Yayasan Petak Danum, Yayasan Penabulu.

Kontak Informasi:
Media relation : Nila Kurnia 081310697586
 Kurniasari.nila@gmail.com

Berita Terkait


Perlindungan Terhadap Kekayaan Tradisi Indonesia »

Kearifan tradisional Indonesia terancam jika tidak ada perlindungan dari pemerintah untuk mencatat dan melestarikannya.

UKM Pangan Award: Upaya Pemerintah Dukung UKM Pangan »

Pemerintah mendukung keberadaan dan kemajuan Usaha Kecil Menengah (UKM) pangan melalui UKM Pangan Award.

Madu Dari Lebah Rinjani »

Kelompok Tani Sari Madu, desa Mumbul Sari, Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, dengan hasil panen berupa madu, terbentuk tanggal 10 Juli 2006 silam.