cart

Sabtu, 15 Oktober 2017 bertempat di Taman Menteng Jakarta Pusat, empat desainer kebanggaan Indonesia menampilkan karya-karya terbaiknya. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017.

1. Teras Mitra –LAWE feat Amber Kusuma

Menampilkan koleksi bertema “Langit Senja di Kefamenanu” Amber Kusuma mengangkat desain dengan bahan kain tenun yang dibuat oleh anak-anak para penenun di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Amber mengatakan, tema ini menggambarkan keindahan alam Kefamenanu yang terinspirasi dari perpaduan nuansa warna langit senja orange jingga berpadu alam yang hijau, dan dihiasi birunya langit.

Ada delapan setelan yang Amber pamerkan yang desainnya banyak menggunakan style Jepang seperti berbagai jenis outer kimono, tunik dan celana Hakama.  Amber ingin desainnya fleksibel dan bisa dipadu padankan dengan outfit lain.

2. Borneo Chic Feat Yoga Wahyudi
Kolaborasi desain Borneo Chic feat Yoga Wahyudi bertemakan “Merindu Panjang” sebagai gambaran perantau yang rindu akan rumah adat Kalimantan (atau sering disebut sebagai rumah lamin panjang). Jenis kain tenun yang digunakan adalah kain sintang yang berasal dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.

Ada lima motif yang digunakan Yoga Wahyudi dalam desain bajunya ;

  • Motif Merinjan yang mengingatkan kita pada pohon – pohon yang banyak manfaatnya bagi manusia dengan kegunaan dan kekuatan khusus di dalamnya
  • Motif Pelangka yang melambangkan kemakmuran, yang memberikan pesan bahwa Pelangka sangat penting digunakan oleh keluarga dalam menjalani kehidupan yang akan mempermudah pekerjaan berat menjadi lebih ringan
  • Motif Perahu, sebagai lambang kebersamaan. Perahu adalah alat transportasi nenek moyang suku dayak. Semakin banyak yang menumpang dalam satu perahu, maka semakin kuat juga perlambangan kebersamaan dan kekompakan.
  • Motif Pucuk Rebung, sebagai simbol kebahagiaan atau kesuksesan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan merupakan motif warisan dari nenek moyang.
  • Motif Tiang Imai yang memberikan pesan bila mendengar kabar buruk dari jauh, maka tiang rumah harus diberi pagar agar dapat terhindar dari mara bahaya.

3. Yurita Puji

Dalam koleksinya untuk Parara, Yurita Puji menggunakan kain tenun Ikat Dayak Iban dari Kalimantan Barat, kain tenun Lombok Timur dan kain tenun dari Kabupaten Sawah Lunto, Padang.  Pewarnaan benang pada kain-kain yang digunakan berasal dari beragam jenis tanaman seperti kunyit, pinang, indigo, kangkung Jawa, kulit kayu Makasar, Engkerebai dan Tebelian. Baju-baju yang dipamerkan didominasi dengan warna kuning, coklat, merah dan hijau.

Koleksi Yurita fokus pada pakaian simple dan ‘ready to wear’ dengan harapan produk yang didesainnya lebih cepat terjual sehingga memberikan impact bagi para penenun.  Pada September lalu, Yurita berhasil memperkenalkan motif tenun Dayak Iban di ajang New York Fashion Week.

4. Gerai Nusantara by Rina Agustin

Semi formal dan kasual, Rina Agustin mendesain bajunya agar bisa dipakai menemani aktivitas sehari-hari. Dalam penampilannya, Rina Agustin memadu padankan batik dengan jeans dan sepatu sneaker.

Kain tenun yang digunakan adalah Tenun Paruki dari Toraja, Tenun Bayan dari Lombok dan Tenun Baduy. Selain  baju, Rina juga menggunakan kain tenun untuk tas ransel sebagai pelengkap penampilan.

Fashion show ini diselenggarakan untuk menampilkan produk-produk lokal yang tidak hanya melestarikan budaya namun juga merawat bumi dengan menggunakan bahan-bahan alami ramah lingkungan.

Selain fashion show, festival PARARA juga menampilkan beragam produk pangan lokal seperti madu, kopi, gula merah, sagu dan lainnya. Festival dua tahunan ini diselenggarakan mulai 13 – 15 Oktober 2017 oleh Konsorsium PARARA.

Indonesia menghadapi tiga isu pangan yang kompleks. Hal itu diungkapkan oleh Peneliti Kebijakan Pangan Prof. Dr. John F. McCarthy dari Crawford School of Public Policy, Australian National University. McCarthy menyatakan bahwa isu pangan ini terjadi akibat adanya tumpang tindih dengan persoalan lain di Indonesia.

Isu pertama adalah kekhawatiran akan jumlah produksi domestik yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, sehingga sangat bergantung pada impor yang harganya fluktuatif. Kedua, naiknya permintaan komoditas pertanian, terutama kelapa sawit. Ketiga, Indonesia telah menyatakan komitmennya terhadap program ekonomi hijau dan pembangunan pedesaan rendah emisi. "Lalu bagaimana kebijakan untuk merespons ketiga isu tersebut bisa berjalan selaras sementara masing-masing mempunyai capaian yang berbeda bahkan berseberangan," ujar McCarthy.

"Lalu bagaimana kebijakan untuk merespons ketiga isu tersebut bisa berjalan selaras sementara masing-masing mempunyai capaian yang berbeda bahkan berseberangan," ujar McCarthy.

Setidaknya ada lima paradigma di dalam kebijakan pangan menurut McCarthy. Pertama, swasembada pangan sebagai upaya mencapai angka produksi global. Kedua, ketahanan pangan dengan memperkuat kapasitas penduduk untuk mengakses pangan terutama saat menghadapi rawan pangan dan masa panceklik. Ketiga, kedaulatan pangan dengan membantu petani maupun kelompok tani untuk memiliki akses dan kontrol yang lebih baik atas sumber-sumber pertanian. Keempat, kebijakan pangan perlu mengarah pada pencapaian hak atas ketersediaan pangan yang memadai sesuai dengan amanat dalam perjanjian internasional. Kelima, memperhatikan prinsip-prinsip lingkungan.

Belakangan Indonesia meletakkan fokusnya pada satu pendekatan saja, yakni swasembada untuk beragam capaian kebijakan pangannya. Peningkatan produksi dengan membuka lahan baru melalui pertanian berskala besar dianggap bisa mencapai tujuan swasembada. Namun, program swasembada belum tentu mampu mendorong tercapainya akses pangan dan kedaulatan pangan. "Apakah cukup membantu mencapai hak pangan yang memadai? Mungkin baik untuk mengejar target produksi. Namun program tersebut belum tentu bisa memberi akses bagi petani miskin. Apalagi jika dikembangkan oleh perekebunan besar," kata McCarthy.

McCarthy kembali mencatat bahwa kebijakan pangan Indonesia sebenarnya telah memiliki tujuan baik. Namun perhatian pada persoalan akses petani yang rentan terhadap rawan pangan dan hak pangan secara umum bisa diutamakan. "Penelitian internasional menunjukan ketahanan pangan bisa mencapai hasil terbaiknya apabila program-program pangan pemerintah diarahkan pada pemberdayaan petani. Petani tetap bisa mengolah lahan pertaniannya sembari juga mendiversifikasi mata pencahariannya," pungkas McCarthy.

Jakarta, 14 Oktober 2017 – Persoalan pembajakan, plagiat dan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Indonesia masih kerap terjadi. Kasus-kasus plagiat dan bahkan klaim produk lokal oleh Negara lain senantiasa menghiasi laman media massa.

Dalam rangkaian acara Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017, Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi BEKRAF Ari Juliano Gema hadir sebagai pembicara dalam pembahasan mengenai Hak Kekayaan Intelektual. Hanya saja, saat ini HaKI masih belum banyak disadari oleh masyarakat dan pelaku industry kreatif. Kurang sosialisasi adalah salah satu penyebabnya.

“HKI penting untuk melindungi orisinalitas produk. Bila produk kita terlindungi oleh HKI, lalu ada pihak lain yang meniru, maka dapat ditempuh jalur hukum,” jelas Ari.

Lebih lanjut, Ari menjelaskan mengenai berbagai hal terkait HKI yang penting untuk diketahui komunitas pelaku usaha kreatif, diantaranya:

  1. Merk, yaitu logo atau nama atau gambar atau kemasan produk yang unik, bisa juga berupa suara, hologram, yang bias menunjukkan suatu produk.
  2. Hak cipta, yaitu yang berkaitan dengan seni, sastra dan ilmu pengetahuan. Contohnya adalah  alat peraga pendidikan. Hak Cipta tidak perlu didaftarkan.
  3. Desain industry, yaitu segala bentuk produk yang digunakan seperti tas, sepatu, baju dan lain-lainnya.
  4. Hak Paten, yaitu suatu teknologi yang berhubungan dengan fungsi. Contohnya digunakan untuk produk seperti tongsis.
  5. Rahasia dagang,yaitu segala sesuatu yang dirahasiakan yang bernilai ekonomi, seperti t resep rahasia keluarga/rahasia dagang. Rahasia dagang ini tidak perlu di daftarkan.  
  6. Desain tata letak sirkuit terpadu,yaitu yang berhubungandengan elektro. COntohnya adalah lempengan listrik yang ada pada alat elektronik.

Sofie,  pengrajin tas dan sepatu handmade yang turut hadir dalam diskusi tersebut berbagi cerita proses pengajuan HKI yang pernah dilakukannya. Ia memulai usaha pada tahun 2012 dan setahun kemudian mulai mengajukan HKI untuk produk sepatu. Hal tersebut dilakukan sofie karena HKI dibutuhkan saat ia hendak bekerja sama dengan asing ataupun departemen store. Setelah melewati proses yang tidak singkat, HKI untuk produk Sofie akhirnya keluar pada tahun 2017.


Dijelaskan Ari, proses pengajuakn HKI untuk produk baru memang butuh waktu lebih lama. Namun, bila satu produk sudah memiliki HKI, untuk proses pengajuan produk lainnya dari mereka/ produsen yang sama akan berjalan lebih cepat.

Jakarta, 15 Oktober – Berdasarkan data yang dihimpun pada 2016 Indonesia memiliki sekitar 59 juta Usaha Menengah Kecil dan Mikro (UMKM)  yang berkontribusi sebesar 61% terhadap perkekonomian. Ditargetkan, pada tahun 2020 Indonesia menjadi digital ekonomi terbesar se Asia Tenggara.

Wakil Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Ariful Yakin Hidayat dalam diskusi tentang Kewirausahaan, Pasar Budaya dan Kebijakan Produk Lokal, dalam acara Festival Penen Raya Nusantara (PARARA) 2017  mengatakan produk-produk kreatif harus menjadi penopang perekonomian Indonesia. Penyumbang ekonomi terbesar saat ini berasal dari sector kuliner sebesar 34%, kemudian fashion dan kriya. Untuk daerah ekspor sebagian besar berusat di pulau Jawa, yaitu Jawa Barat, Jawa Timur dan Banten. Sementara untuk Indonesia bagian timur masih belum termaksimalkan potensinya, dengan kata lain “sleeping giant”.

“Kekayaan alam Indonesia berlimpah, namun secara marketing masih lemah dalam hal bahasa dan pemanfaatan teknologi. Seperti halnya Filipina yang menjadi target pasar dari Indonesia. Sekolah-sekolah di Filipina mengajarkan bahasa Indonesia. Sehingga pada saat mereka ke luar negeri, dapat lebih mudah menyesuaikan diri,” jelas Ariful Yakin Hidayat.

Hal lain yang perlu diperhatikan untuk mendukung industri kreatif Indonesia adalah kebijakan yang berpihak terhadap pengusaha lokal. Seperti yang terlihat di Negara China dimana aplikasi Whatssup diproteksi dan mereka mengembangkan Kakao Talk sebagai fitur chatting yang digunakan masyarakat. China berhasil memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai penyambung antara petani/ produsen dengan pelaku usaha atau pemodal. Hal seperti itulah yang diharapkan juga dapat diterapkan di Indonesia, dimana antara teknologi dan kemajuan dapat sepenuhnya dimanfaatkan untuk mendukung sektor lokal.

Lebih lanjut, Ariful menghimbau agar pelaku industry kreatif Indonesia menerapkan 3C, yaitu CONNECT, dengan cara bertemu dengan pelaku industru di pameran UMKM atau acara-acara lainnya, COLLABORATE yaitu memiliki koneksi dan CONTRIBUTE, yaitu menjalankan bisnis atau usaha tidak hanya mengejar laba, tapi juga berbagi ilmu atau informasi yang bermanfaat dengan orang lain.

Berbagai persoalan tentang pengembangan produk dan usaha dari komunitas atau pelaku usaha kreatif juga disampaikan oleh beberapa komunitas yang hadir pada kesempatan itu. Koperasi Nira Satria, produsen gula kelapa atau gula semut dari Banyumas turut berbagi cerita tentang kurangnya jaminan keselamatan untuk petani penderes, harga yang lemah hingga keterikatan petani dengan tengkulak/ pengelup. Gula semut sendiri diklaim sebagai yang terbagus di Indonesia dan sudah memiliki sertifikasi organic sejak 2009 dan memiliki sertifikasi Fair Trade untuk ekspor ke luar negeri, diantaranya Korea Selatan dan Jerman.

Iim Rusyamsi, Co-founder Krafie.com berbagi cerita mengenai pentingnya pemahaman pemahaman di era digital untuk pelaku UMKM. Salah satu informasi yang perlu dimiliki oleh pelaku UMKM yang memanfaatkan teknologi digital adalah Google Analitycs yang dapat memberikan informasi tentang apa yang saat ini sedang menjadi trend. “Perlu dilakukan edukasi untuk para pelaku UMKM agar tools ini dapat bermanfaat untuk mengembangkan  dan mempromosikan produknya masing-masing," lanjut Iim.

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017 adalah festival 2 tahunan, setelah pertama kali diselenggarakan pada tahun 2015. Festival ini menampilkan produk kewirausahan komunitas/kelompok masyarakat yang telah dikemas, hasil kolaborasi panjang antara wirausaha dari komunitas dan pekerja kreatif yang dibangun selama fase pra-festival.

Indonesia dapat menciptakan pasar sendiri untuk memasarkan berbagai produk lokal, baik produk-produk dari sektor pangan maupun hasil kerajinan dan fashion. Hal itu diungkapkan oleh Ketua Konsorsium PARARA 2017 Jusupta Tarigan dalam acara Ngopi Bareng PARARA bertema Suguhan Kopi Lokal pada hari terakhir Festival PARARA, Minggu (15/10).

Mantan Panglima TNI, Moeldoko yang turut hadir dalam diskusi tersebut turut membenarkan pendapat tersebut. Menurut Moeldoko, untuk menciptakan pasar khususnya dibidang pertanian yang diperlukan adalah teknologi. Teknologi yang dapat mendukung sektor pertanian pula yang dapat mendorong generasi muda Indonesia menggemari dunia pertanian. “Dengan teknologi, kita bisa menciptakan pertanian yang berkepastian,” ujar Moeldoko.

Lebih lanjut Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) ini mengatakan ingin membangun sebuah "bridging institution" dimana mahasiswa, enterprise, dan masyarakat dari berbagai sektor lainnya dapat saling mendukung untuk memajukan pertanian. “Pertanian kalau tidak tertangani dengan baik akan merugikan keberlangsungan masyarakat. Disitulah peran generasi muda untuk dapat menjembatani pertanian melalui teknologi,” lanjutnya.

Moeldoko juga mengingatkan, yang juga tak kalah penting dibanding teknologi adalah cara berpikir (mindset) tentang pertanian. Sebab, selama ini pertanian selalu diidentikkan dengan kemiskinan. Padahal justru dengan memperkuat pertanianlah ketahanan pangan Indonesia dapat terwujud.

Nina dari perwakilan Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo) menyebutkan, anak muda semestinya dapat memiliki peran yang besar dalam hal memasarkan produk-produk lokal Indonesia. “Anak muda sekarang melek internet dan sosmed, mereka bisa bantu dengan kemampuan mereka,” ujarnya. Generasi muda yang berkecimpung dalam dunia start up harus bisa mengaplikasikan ilmunya untuk hal-hal yang dapat meringankan para petani.

Copyright 2020 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram