cart

Inisiatif Sederhana dari Kampung Untuk Investasi Keberlanjutan Lingkungan

July 1, 2021

Secara global saat ini semua negara sedang berjuang menghadapi krisis multidimensi yang terjadi akibat kerusakan lingkungan. Perubahan iklim menjadi salah satu perhatian global karena dampaknya dialami tidak hanya masyarakat di perkotaan, tapi lebih jauh ke pedesaan. Bencana banjir dan longsor yang terjadi setiap tahun merupakan tanda peringatan bahwa bumi harus dipulihkan. BNPB mencatat terdapat 1441 bencana yang terjadi sejak januari hingga 2021, dari jumlah tersebut, terdapat 599 kejadian banjir dan 293 kejadian tanah longsor. Selain kondisi tersebut, selama hampir 2 tahun ini kita harus melalui pandemic COVID-19 yang merupakan sebagian dampak dari krisis lingkungan. Perkebunan monokultur dan pertambangan skala besar terus jadi tren ekonomi yang membuat hutan semakin banyak ditebangi, laut dan sungai dicemari, sehingga fungsi-fungsi konservasinya tidak berjalan dengan baik.

Masa depan menjadikan bumi layak huni bagi generasi mendatang pun seolah kian jauh dari harapan. Menanggapi situasi tersebut, berdiam diri saja bukan menjadi pilihan, terutama bagi masyarakat di kampung. Upaya yang dilakukan adalah menjaga sumber daya alam dan kelestarian lingkungan saat ini sekaligus investasi untuk generasi mendatang. Pada momentum perayaan hari lingkungan hidup se-dunia, Konsorsium PARARA berkesempatan mengundang salah satu kelompok perempuan yang melakukan aksi penyelamatan lingkungan untuk menjadi narasumber di WEBINAR bertajuk “Jaga Tradisi, Rawat Lingkungan.

Rita Wati, ketua KPPL (Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan) Maju Bersama, dari Desa Pal VIII, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu membagikan pengalamannya. Setiap satu muharam di desa ada acara sedekah bumi. Ia dan anggota kelompok meminta pihak desa dan lembaga adat agar dilibatkan dalam sedekah bumi dan bentuknya sedekah pohon. Sebab ini menjadi sarana bagi mereka mengajak masyarakat sekitar melestarikan lingkungan.  “Sedekah bumi di desa itu tanda terima kasih kepada bumi. Kita selama ini berpijak dan mencari nafkah segala sesuatunya berasal dari bumi. Kalau hanya bersedekah, berdoa, tapi tidak merawat bumi, mengambil isinya saja tidak pas, jadi harus merawat juga,” tutur Rita.

Menurut pengalaman dan pengetahuannya, bagi perempuan yang akrab disapa Ibu Rita, pohon sangat dibutuhkan untuk memulihkan kembali tanah yang selama ini telah diambil atau dirusak. Ini yang melatari keinginannya bersedekah pohon dan sebagai bentuk terima kasih kepada Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya. KPPL membagikan bibit pohon seperti alpukat, kabau, jengkol. Selain itu, mereka mengajak mengembangkan model pertanian hutan polikultur/agroforestri, yang mana tidak hanya menanam kopi, ada tanaman sela. Manfaatnya selain menjaga ketersediaan oksigen bagi makhluk hidup, juga menjaga ketahanan pangan dan air.

Kelompok perempuan yang bermitra dengan Balai Besar TNKS (Taman Nasional Kerinci Seblat) ini secara swadaya mengelola hasil hutan bukan kayu dan membuat pupuk organik agar ramah lingkungan dan menghemat biaya produksi pertanian. Mereka menata dan memperbanyak tanaman seperti kecombrang dan pakis di bawah tegakkan pohon agar berkelanjutan. 

Ibu Rita menambahkan bahwa dari informasi yang ia dapatkan, selain ditetapkan sebagai ikon puspa harapan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kecombrang mengandung vitamin c atau antioksidan yang dapat mencegah kanker serviks dan payudara yang rentan dialami perempuan. Manfaat lainnya, kecombrang menjadi produk olahan yang dapat menambah pendapatan anggota kelompok, yang mana telah mereka kelola menjadi minuman siap saji, dodol, wajik dan stik pakis. Inisiatif pengelolaan dan pelestarian lingkungan ini juga menginspirasi peremuan di desa sekitar TNKS, seperti KPPL Karya Mandiri, KPPL Sumber Jaya, KPPL Sejahtera dan KPPL Karya Bersama.

Copyright 2020 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram