cart

SAGU: BAHAN PANGAN YANG SERBA GUNA

October 26, 2021

Indonesia memiliki keanekaragaman bahan makanan pokok yang tersebar di seluruh pelosok negeri. Salah satunya adalah sagu. Biasanya, orang-orang mengenal sagu sebagai makanan khas dari wilayah Indonesia timur, khususnya Papua dan Maluku. Dalam peta sebaran sagu Kementerian Pertanian (2021) mencatat bahwa 85 % dari total luas lahan sagu di Indonesia berada di Papua yakni 1,20 juta ha. Ternyata sagu merupakan tanaman yang bisa tumbuh dimanapun selama area tersebut lembap dan berair, area sekitar hutan mangrove (gambut) bahkan sangat cocok untuk ditanami pohon sagu. Misalnya di Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku. Selain manfaatnya sebagai sumber karbohidrat utama, sagu bisa digunakan untuk bahan baku pembuatan makanan sehat rendah gilkemik, pakan ternak dan lainnya.

Kali ini, blog PARARA mengulik tentang sagu dari Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.  Kepulauan Meranti merupakan ekosistem sagu terluas di pulau Sumatera. Sagu merupakan tanaman adaptif yang dapat menjaga tata air dan kelembapan pada area tersebut. Keduanya merupakan kolaborasi tanaman konservasi yang melindungi ketersediaan air dan lingkungan. Selain itu, sagu juga bisa menambah pendapatan petani dengan melakukan inovasi berupa bahan baku pembuatan mie sagu, seperti yang dilakukan oleh asosiasi masyarakat sagu meranti di Sungai Tohor.

Andi Prahmono (NTFP-EP Indonesia) membagikan pengetahuan pengelolaan mie sagu yang didapatkan dari pengalamannya bersama komunitas. Proses awalnya adalah melakukan pencucian sagu basah kotor yang diproduksi dari kilang dengan tujuan untuk membuang kotoran dan ampas yang ada dalam saripati sagu sehingga mendapatkan pati sagu murni. Masyarakat Sungai Tohor menyebutnya kepijat (berbentuk halus dan mirip saripati sagu tetapi berwarna cokelat), ini harus dibuang karena termasuk sampah yang terfermentasi jika dikonsumsi membuat perut kita menjadi kembung. Pencucian awal harus menggunakan air merah (air gambut) untuk mempermudah proses pemisahan saripati murni dengan kepijat. Dalam proses awal tidak direkomendasikan menggunakan air hujan atau pun air sumur karena masih ada rasa asin dan warnanya putih kecoklatan. Untuk pembilasan kedua baru diperbolehkan menggunakan air putih (air hujan) yang sudah ditampung agar hasilnya bagus.

Ketika sagu basah telah bersih, tidak perlu dibuat menjadi tepung kering karena dalam kondisi basah pun bisa diproses dengan membuat bola yang dimasukkan dalam pipa saluran air yang telah dipotong, lalu ditiriskan menggunakan kain polos berpori halus agar membentuk bola. Setelah lapisan luarnya membentuk kapurun (papeda) berubah warna menjadi kuning, bisa langsung dimasukkan ke dalam baskom. Setelah itu diproses dengan alat pembuat mie dan diolah di rumah produksi, dikeringkan selama beberapa hari agar berbentuk menjadi mie dan dikemas untuk dijual.

Salah satu pelaku usaha mie sagu sekaligus aktivis lingkungan yang ada di sungai Tohor adalah Abdul Manan. Tokoh pendiri Jaringan Masyarakat Gambut Riau ini memulai usaha mie sagu sejak tahun 2016. Berbekal keinginan memperkenalkan makanan nusantara kepada publik, ia memfokuskan pekerjaannya untuk mengelola mie sagu dengan skala rumahan hingga saat ini. Ia menjalankan usaha mie sagu mentah tersebut melibatkan anggota masyarakat lainnya dengan harapan bisa menambah pendapatan mereka sekaligus memperkuat usaha penyelamatan ekosistem gambut dan sagu disekitar.

Bagaimana kisahnya? Di edisi blog selanjutnya, PARARA akan mengajak pembaca mengenal lebih dekat tokoh penggagas mie sagu di Sungai Tohor ini serta menyajikan tips pembuatan makanan dari mie. Tunggu edisi selanjutnya.

Copyright 2020 © Panen Raya Nusantara
crossmenu-circle linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram